Rabu, 04 November 2009

KULTUR SEMINARI GARUM

Jaman yang serba kompleks seperti sekarang ini tidak saja berjalan tidak seiring dengan semangat modernisasi (baca: memanusiawikan), tetapi juga cenderung membawa manusia kepada jurang kemelaratan yang lebih tajam, baik jasmani maupun rohani. Di sinilah mau tidak mau Gereja dan terutama Keluarga Seminari Vincentius Garum yang ber kosentrasi pada masalah kemelaratan terpanggil untuk menghadapinya. Sangat masuk akal bila pada usianya yang ke-60 tahun ini mereka sibuk memandang diri dan kemudian juga memandang ke depan: Apa lagi yang dapat dilakukan untuk Kerajaan Allah? Toh, apa yang telah dilakukan selama ini telah banyak menghasilkan banyak buah?

Kultur Vinsensian
Kultur adalah jaringan atau pola dasar yang membentuk perilaku yang khas. Pola dasar yang khas itu merupakan bentukan sejarah yang mengalir dari hulu atau sumber yang pertama. Demikian juga kultur Vinsensian, pola dasarnya mengalir dari sumbernya, yakni Vinsensius. Siapa Vinsensius? Dan seperti apa kulturnya?
Vinsensius adalah sosok pembaharu yang berdasar pada inspirasi jaman dan cinta kepada Allah. Vinsensius (1581-1660), anak seorang petani dari Prancis Selatan, ditangkap perampok dan dijual sebagai budak belian di Tunisia. Setelah ditebus, mula-mula menjadi pastor pada keluarga bangsawan kaya, tetapi semakin tertarik pada nasib para tani miskin, orang minta-minta dan tawanan. Untuk melayani mereka dengan lebih efisien, ia mendirikan Kongergasi Misi (CM atau Lazaris; 1625) dan Suster-Suster Putri Kasih (1633). Vinsensius berusaha meningkatkan mutu pengetahuan dan hidup rohani para calon imam dan imam-imam yang sudah berkarya. Ia menjadi penasihat raja Prancis, tetapi ia tetap mengutamakan karya amal. Dinyatakan orang kudus (1737) dan pelindung karya-karya amal.
Kisah singkat di atas setidaknya memberikan gambaran bahwa setelah melalui perjalanan hidupnya yang menderita, Vinsensius bangkit dengan kemampuan kreatifnya menjadi pembaharu. Secara budaya, ia menjadi inovator sebab berdasar pada fakta dan sejarah hidupnya mampu merumuskan tindakan dan kemudian merealisasikan kembali dalam hidup demi memperjuangkan kebenaran terutama bagi kaum miskin papa. Lebih dari itu, dalam tindakan maupun realisasi atas tindakan kreatifnya itu Vinsensius dipenuhi oleh roh cinta, cinta kepada Allah, yang menurutnya ditemukan dalam diri orang miskin papa. Itulah jati diri Vinsensius. Jati diri yang dibentuk dari kultur proses hidupnya sendiri. Proses hidup hingga menemukan jati dirinya itulah yang kemudian menjadi dasar untuk segala tindakannya. Karena itu, ia inovatif, kreatif dan inspiratif. Selanjutnya, ia juga pembaharu secara intelektual maupun praksis.
Kultur Vinsensius tampak makin jelas, kuat dan khas ketika dirumuskannya dasar bertindak, “cinta kepada orang miskin dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan mereka”. Dasar itu juga kemudian dijadikan motto oleh Kongergasi Misi (CM): “Evangelizare pauperibus misit me” dan Suster-suster Putri Kasih (PK): “Caritas Christi urget nos”yang didirikannya. Sedangkan dalam upaya mewujudkan karya di tengah-tengah orang miskin, dipilihnya keutamaan-keutamaan yang tepat. Bagi CM : Kesederhanaan, Rendah hati, Lemah-lembut, Matiraga dan Semangat merasul. Bagi para suster PK : Kesederhanaan, Rendah hati dan Kasih.
Kultur itu terus berkembang dan tersebar ke seluruh dunia hingga sekarang. Nama Vinsensius makin berperan dalam kancah pergulatan dunia, lebih-lebih jaman sekarang. Namun, rupanya kultur yang begitu indah itu kini seperti terjepit di antara dua wajah dunia. Wajah yang satu adalah wajah-wajah yang masih mempertahankan kultur romantisme dan wajah yang satunya lagi adalah wajah-wajah yang larut dalam riak gelombang “globalisasi”. Lalu di mana kultur Vinsensian yang orisinal? Bukankah keberadaan kultur Vinsensian dipercaya mengatasi kedua wajah tadi?
Bagi Vinsensius, membakukan kultur tanpa melihat kondisi jaman adalah sesuatu yang tabu sebab titik tolak kulturnya adalah fakta atau kondisi jaman. Sementara kekompleksan jaman sekarang menuntut analisis dan perencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual sesuai dengan kultur yang dihidupi. Tidak cukup hanya dengan warisan-warisan yang beku. Mungkin kultur dengan budaya demikian belum dapat diterima di kalangan kultur Vinsensian karena berbagai faktor yang antara lain, “yang penting adalah karya”. Namun, mengagungkan sejarah masa lalu, termasuk di dalamnya karya, tanpa upaya pencarian dan penyelarasan dengan problematik jaman adalah kebekuan.

Kultur di Seminari Garum
Kultur Vinsensian di Seminari Garum dapat dilihat dari bagaimana Peringatan Hari Vinsensius diselenggarakan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Peringatan Hari Vinsensius di Seminari Menengah Garum selalu dirangkai dalam acara-acara, seperti : SV Games, Bulan Kitab Suci, Hari Staf Pembimbing, Misa Perayaan dan Fancy Fair. Acara-acara yang berlangsung, mulai 4 Agustus (Pembukaan SV Games) sampai dengan 28 September (Fancy Fair) itu sudah demikian kental membekas di komunitas Seminari.
Namun, agaknya kultur itu kurang berkembang karena tidak disertai dengan iklim pemaknaan baru. Lihat misalnya, acara-acara yang sering menjadi isi peringatan yang hanya begitu-begitu saja dan terkesan kurang terolah atau disesuaikan dengan perubahan jaman yang menjadi inspirasi peringatan. Anehnya, mereka yang termasuk dalam kultur itu tidak begitu memahami akan kulturnya sendiri, yang mesti harus bagaimana. Entah disadari atau tidak, keadaan seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun hinga sekarang. Akhirnya, peringatan yang begitu meriah dan indah itu kurang memberi inspirasi efek pada kehidupan komunitas. Umumnya, seminaris hanya mengejar kegembiraan tanpa makna karena memang tidak ada makna yang perlu diolah dalam kehidupan komunitas. Jadinya, yang tampak dan terasa adalah kegembiraan semu dan tidak bertahan lama.
Seandainya kultur itu dipahami dan dimaknai sungguh-sungguh tentu acara-acara peringatan itu akan lebih menarik dan berisi. Misalnya, pada waktu upacara pembukaan SV Games. Upacara itu sering diwarnai oleh tampilan lucu peserta yang berwajah coreng-moreng, rambut yang meruncing, pakaian yang aneh-aneh, serta seorang maskot yang didandani lucu. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa maksudnya. Padahal, kalau kita lihat dari kultur Vinsensius sendiri yang bertitik tolak dari keadaan atau fakta jaman, hal itu sangat bermakna. Upacara pembukaan SV Games dapat dijadikan simbol situasi jaman yang menjadi titik tolak dari suatu tindakan kreatif. Sebagai simbol, mestinya upacara merupakan pengejawantahan dari situasi jaman yang sedang dihadapi. Karena jaman selalu berubah maka dapat dimungkinkan simbol itu juga mengalami perubahan warna. Wajah dan pakaian adalah simbol situasi jaman. Setiap jaman memiliki aktor yang berperan pada saat itu. Maka simbol “maskot” setidaknya dapat memberi gambaran seperti apa aktor yang berperan pada jaman itu.
Acara-acara yang lain pun kurang lebih sama. Hanya bersifat warisan yang beku. Namun, untuk tahun ini ada beberapa perubahan, misalnya dalam hal tema. Tema SV Games tahun ini, “The Freak of Sport”. Bulan Kitab Suci (BKS) yang bertema “Komunitas Basis dan Lingkungan Hidup mencoba memberi isi dengan tindakan kreatif berupa Lomba Cipta Lagu, Lomba Keasrian RT, Lomba Khotbah. Hari Staf Pembimbing mengambil tema “Vinsensius : Inovator dan Inspirator”. Dari sini paling tidak tampak mulai muncul upaya untuk memberi isi peringatan dengan cara yang lebih hidup dan bermakna. Ada harapan kultur Vinsensian di Seminari Garum tumbuh berkembang dinamis dalam kancah pergulatan hidup di era global ini. Semoga.

Living The Footprint
Suatu peringatan tidak akan lengkap bila tidak ada kenangan. Kenangan adalah semangat untuk bersatu, bergandeng tangan, bertukar rasa, bertukar makna, dan memperbaiki citra dalam rupa-rupa cinta. Namun, kenangan juga bisa membawa manusia menjadi lupa. Lupa rasa dan citra. Maka, lalu yang terpenting adalah cara mengenang. Adakah cara mengenang yang lebih baik? Berikut ini mungkin salah satunya.

“Ada sebuah suku terpencil. Suku itu telah lama ingin belajar tentang bagaimana membuat api yang dapat menghangatkan tubuhnya di malam hari. Lalu datanglah seorang imam ke suku itu. Ia adalah ahli perapian. Sesuai dengan permintaan suku itu, imam itu mengajarinya cara membuat api sampai mereka benar-benar menguasai. Beberapa tahun kemudian, imam itu meninggal dunia dan kemudian digantikan oleh temannya yang juga seorang imam. Imam yang kedua itu merasa perlu mendirikan sebuah monumen untuk mengenang jasa-jasa imam pertama. Dibuatkanlah kepada suku itu sebuah patung yang bentuknya persis seperti imam pertama. Selain itu, imam kedua juga membuat semacam catatan mengenai pokok-pokok keutamaan dengan kata-kata yang indah mengagumkan seperti syair lagu. Suku itu pun senang dan tiap tahun mengadakan upacara untuk mengenang jasa-jasa imam pertama. Namun, ada satu hal yang aneh dari hidup suku itu, mereka sama sekali lupa tentang cara membuat api yang menghangatkan itu.”

Akankah mereka berbalik ke masa itu atau melupakan saja cara itu?

(IL. Parsudi adalah salah satu pengajar di Seminari Garum)