Jaman yang serba kompleks seperti sekarang ini tidak saja berjalan tidak seiring dengan semangat modernisasi (baca: memanusiawikan), tetapi juga cenderung membawa manusia kepada jurang kemelaratan yang lebih tajam, baik jasmani maupun rohani. Di sinilah mau tidak mau Gereja dan terutama Keluarga Seminari Vincentius Garum yang ber kosentrasi pada masalah kemelaratan terpanggil untuk menghadapinya. Sangat masuk akal bila pada usianya yang ke-60 tahun ini mereka sibuk memandang diri dan kemudian juga memandang ke depan: Apa lagi yang dapat dilakukan untuk Kerajaan Allah? Toh, apa yang telah dilakukan selama ini telah banyak menghasilkan banyak buah?
Kultur Vinsensian
Kultur adalah jaringan atau pola dasar yang membentuk perilaku yang khas. Pola dasar yang khas itu merupakan bentukan sejarah yang mengalir dari hulu atau sumber yang pertama. Demikian juga kultur Vinsensian, pola dasarnya mengalir dari sumbernya, yakni Vinsensius. Siapa Vinsensius? Dan seperti apa kulturnya?
Vinsensius adalah sosok pembaharu yang berdasar pada inspirasi jaman dan cinta kepada Allah. Vinsensius (1581-1660), anak seorang petani dari Prancis Selatan, ditangkap perampok dan dijual sebagai budak belian di Tunisia. Setelah ditebus, mula-mula menjadi pastor pada keluarga bangsawan kaya, tetapi semakin tertarik pada nasib para tani miskin, orang minta-minta dan tawanan. Untuk melayani mereka dengan lebih efisien, ia mendirikan Kongergasi Misi (CM atau Lazaris; 1625) dan Suster-Suster Putri Kasih (1633). Vinsensius berusaha meningkatkan mutu pengetahuan dan hidup rohani para calon imam dan imam-imam yang sudah berkarya. Ia menjadi penasihat raja Prancis, tetapi ia tetap mengutamakan karya amal. Dinyatakan orang kudus (1737) dan pelindung karya-karya amal.
Kisah singkat di atas setidaknya memberikan gambaran bahwa setelah melalui perjalanan hidupnya yang menderita, Vinsensius bangkit dengan kemampuan kreatifnya menjadi pembaharu. Secara budaya, ia menjadi inovator sebab berdasar pada fakta dan sejarah hidupnya mampu merumuskan tindakan dan kemudian merealisasikan kembali dalam hidup demi memperjuangkan kebenaran terutama bagi kaum miskin papa. Lebih dari itu, dalam tindakan maupun realisasi atas tindakan kreatifnya itu Vinsensius dipenuhi oleh roh cinta, cinta kepada Allah, yang menurutnya ditemukan dalam diri orang miskin papa. Itulah jati diri Vinsensius. Jati diri yang dibentuk dari kultur proses hidupnya sendiri. Proses hidup hingga menemukan jati dirinya itulah yang kemudian menjadi dasar untuk segala tindakannya. Karena itu, ia inovatif, kreatif dan inspiratif. Selanjutnya, ia juga pembaharu secara intelektual maupun praksis.
Kultur Vinsensius tampak makin jelas, kuat dan khas ketika dirumuskannya dasar bertindak, “cinta kepada orang miskin dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan mereka”. Dasar itu juga kemudian dijadikan motto oleh Kongergasi Misi (CM): “Evangelizare pauperibus misit me” dan Suster-suster Putri Kasih (PK): “Caritas Christi urget nos”yang didirikannya. Sedangkan dalam upaya mewujudkan karya di tengah-tengah orang miskin, dipilihnya keutamaan-keutamaan yang tepat. Bagi CM : Kesederhanaan, Rendah hati, Lemah-lembut, Matiraga dan Semangat merasul. Bagi para suster PK : Kesederhanaan, Rendah hati dan Kasih.
Kultur itu terus berkembang dan tersebar ke seluruh dunia hingga sekarang. Nama Vinsensius makin berperan dalam kancah pergulatan dunia, lebih-lebih jaman sekarang. Namun, rupanya kultur yang begitu indah itu kini seperti terjepit di antara dua wajah dunia. Wajah yang satu adalah wajah-wajah yang masih mempertahankan kultur romantisme dan wajah yang satunya lagi adalah wajah-wajah yang larut dalam riak gelombang “globalisasi”. Lalu di mana kultur Vinsensian yang orisinal? Bukankah keberadaan kultur Vinsensian dipercaya mengatasi kedua wajah tadi?
Bagi Vinsensius, membakukan kultur tanpa melihat kondisi jaman adalah sesuatu yang tabu sebab titik tolak kulturnya adalah fakta atau kondisi jaman. Sementara kekompleksan jaman sekarang menuntut analisis dan perencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual sesuai dengan kultur yang dihidupi. Tidak cukup hanya dengan warisan-warisan yang beku. Mungkin kultur dengan budaya demikian belum dapat diterima di kalangan kultur Vinsensian karena berbagai faktor yang antara lain, “yang penting adalah karya”. Namun, mengagungkan sejarah masa lalu, termasuk di dalamnya karya, tanpa upaya pencarian dan penyelarasan dengan problematik jaman adalah kebekuan.
Kultur di Seminari Garum
Kultur Vinsensian di Seminari Garum dapat dilihat dari bagaimana Peringatan Hari Vinsensius diselenggarakan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Peringatan Hari Vinsensius di Seminari Menengah Garum selalu dirangkai dalam acara-acara, seperti : SV Games, Bulan Kitab Suci, Hari Staf Pembimbing, Misa Perayaan dan Fancy Fair. Acara-acara yang berlangsung, mulai 4 Agustus (Pembukaan SV Games) sampai dengan 28 September (Fancy Fair) itu sudah demikian kental membekas di komunitas Seminari.
Namun, agaknya kultur itu kurang berkembang karena tidak disertai dengan iklim pemaknaan baru. Lihat misalnya, acara-acara yang sering menjadi isi peringatan yang hanya begitu-begitu saja dan terkesan kurang terolah atau disesuaikan dengan perubahan jaman yang menjadi inspirasi peringatan. Anehnya, mereka yang termasuk dalam kultur itu tidak begitu memahami akan kulturnya sendiri, yang mesti harus bagaimana. Entah disadari atau tidak, keadaan seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun hinga sekarang. Akhirnya, peringatan yang begitu meriah dan indah itu kurang memberi inspirasi efek pada kehidupan komunitas. Umumnya, seminaris hanya mengejar kegembiraan tanpa makna karena memang tidak ada makna yang perlu diolah dalam kehidupan komunitas. Jadinya, yang tampak dan terasa adalah kegembiraan semu dan tidak bertahan lama.
Seandainya kultur itu dipahami dan dimaknai sungguh-sungguh tentu acara-acara peringatan itu akan lebih menarik dan berisi. Misalnya, pada waktu upacara pembukaan SV Games. Upacara itu sering diwarnai oleh tampilan lucu peserta yang berwajah coreng-moreng, rambut yang meruncing, pakaian yang aneh-aneh, serta seorang maskot yang didandani lucu. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa maksudnya. Padahal, kalau kita lihat dari kultur Vinsensius sendiri yang bertitik tolak dari keadaan atau fakta jaman, hal itu sangat bermakna. Upacara pembukaan SV Games dapat dijadikan simbol situasi jaman yang menjadi titik tolak dari suatu tindakan kreatif. Sebagai simbol, mestinya upacara merupakan pengejawantahan dari situasi jaman yang sedang dihadapi. Karena jaman selalu berubah maka dapat dimungkinkan simbol itu juga mengalami perubahan warna. Wajah dan pakaian adalah simbol situasi jaman. Setiap jaman memiliki aktor yang berperan pada saat itu. Maka simbol “maskot” setidaknya dapat memberi gambaran seperti apa aktor yang berperan pada jaman itu.
Acara-acara yang lain pun kurang lebih sama. Hanya bersifat warisan yang beku. Namun, untuk tahun ini ada beberapa perubahan, misalnya dalam hal tema. Tema SV Games tahun ini, “The Freak of Sport”. Bulan Kitab Suci (BKS) yang bertema “Komunitas Basis dan Lingkungan Hidup mencoba memberi isi dengan tindakan kreatif berupa Lomba Cipta Lagu, Lomba Keasrian RT, Lomba Khotbah. Hari Staf Pembimbing mengambil tema “Vinsensius : Inovator dan Inspirator”. Dari sini paling tidak tampak mulai muncul upaya untuk memberi isi peringatan dengan cara yang lebih hidup dan bermakna. Ada harapan kultur Vinsensian di Seminari Garum tumbuh berkembang dinamis dalam kancah pergulatan hidup di era global ini. Semoga.
Living The Footprint
Suatu peringatan tidak akan lengkap bila tidak ada kenangan. Kenangan adalah semangat untuk bersatu, bergandeng tangan, bertukar rasa, bertukar makna, dan memperbaiki citra dalam rupa-rupa cinta. Namun, kenangan juga bisa membawa manusia menjadi lupa. Lupa rasa dan citra. Maka, lalu yang terpenting adalah cara mengenang. Adakah cara mengenang yang lebih baik? Berikut ini mungkin salah satunya.
“Ada sebuah suku terpencil. Suku itu telah lama ingin belajar tentang bagaimana membuat api yang dapat menghangatkan tubuhnya di malam hari. Lalu datanglah seorang imam ke suku itu. Ia adalah ahli perapian. Sesuai dengan permintaan suku itu, imam itu mengajarinya cara membuat api sampai mereka benar-benar menguasai. Beberapa tahun kemudian, imam itu meninggal dunia dan kemudian digantikan oleh temannya yang juga seorang imam. Imam yang kedua itu merasa perlu mendirikan sebuah monumen untuk mengenang jasa-jasa imam pertama. Dibuatkanlah kepada suku itu sebuah patung yang bentuknya persis seperti imam pertama. Selain itu, imam kedua juga membuat semacam catatan mengenai pokok-pokok keutamaan dengan kata-kata yang indah mengagumkan seperti syair lagu. Suku itu pun senang dan tiap tahun mengadakan upacara untuk mengenang jasa-jasa imam pertama. Namun, ada satu hal yang aneh dari hidup suku itu, mereka sama sekali lupa tentang cara membuat api yang menghangatkan itu.”
Akankah mereka berbalik ke masa itu atau melupakan saja cara itu?
(IL. Parsudi adalah salah satu pengajar di Seminari Garum)
Rabu, 04 November 2009
Selasa, 29 September 2009
pembelajaran analisis sastra
PEMBELAJARAN
MENGULAS KARYA SASTRA UNTUK SMA
Menganalisis, mengulas, menafsir, dan menilai karya sastra berarti menjadikan suatu karya sastra sebagai orientasi pembahasan, pengulasan, penafsiran, ataupun penilaian. Pada hakikatnya kegiatan mengulas karya sastra berdasar pada keseluruhan karya sastra yang mencakup alam kehidupan, pembaca, penulis, dan karya sastra. Berdasarkan pandangan itu, ada empat pendekatan dalam mengulas sastra, yaitu (1) pendekatan objektif, (2) pendekatan mimetik, (3) pendekatan ekspresif, (4) pendekatan pragmatik (Abrams dalam Djoko Pradopo, 1995: 94), dan satu pendekatan lain yang lebih kompleks, yaitu (5) pendekatan interdisipliner.
1. Pendekatan objektif
Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai sesuatu yang mandiri, otonom, bebas, bebas dari pengarang, pembaca dan dunia sekelilingnya. Pendekatan ini cenderung menerangkan karya sastra atas kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling hubung unsur-unsur yang membentuk karya sastra. Telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif sering dikenal dengan telaah struktural, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan tema, peristiwa, tokoh, alur, setting, sudut pandangan, diksi yang terdapat dalam karya sastra.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Orang-orang Proyek
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2007
Judul ulasan : Orang-orang Proyek dalam Lingkar Hermeneutik
Ulasan ini dibuka dengan penjelasan tentang kerangka teoretik pendektan objektif dari beberapa ahli sastra seperti Abram, Teew, Hardiman, dan Ricour. Kemudian penulis mulai mengulas novel mulai dari makna judul, kemudian tema, tokoh, alur, nilai-nilai, makna novel secara keseluruhan. Masing-masing bagian novel itu diulas menggunakan rujukan baik mengenai teorinya maupun data sebagai bukti dari teks.
Contoh judul ulasan lain:
Hujan Menulis Ayam: Teks Narasi Sutardji Colsum Bachcri
Keunikan Bahasa Pengucapan Ayu Utami dalam Novel Saman
2. Pendekatan mimetik
Pedekatan ini memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah kebenaran representasi objek-objke yang digambarkan ataupun yang hendak digambarkan.
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu. Perhatian penelaah adalah pada “the rela¬tionship between the work of art and the universe that it pretends to produce (hubungan antara karya seni dan realitas yang melatarbelakangi kemunculannya).
Dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan di atas, penelaah pertama memahami suatu karya atas dasar teks tertulis; kedua dia memandang teks tertulis itu sebagai pengungkapan pengalaman, perasaan, imajinasi, persepsi, sikap dan sebagainya; dan kedua dia menghubungkannya dengan realitas yang terjadi di masyarakatnya.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul : Sagra (kumpulan cerpen)
Pengarang : Oka Rukmini
Penerbit :
Judul Ulasan : Sisi Gelap Pulau Bali dalam Sagra
Kerangka ulasan:
Kondisi Bali selama ini: ketenaran, konflik, persoalan
Novel-novel lain tentang Bali
Tafsir keliru tenatang kasta dengan berbagai rujukan
Potret buram pulau Bali dalam Sagra
Sikap narator terhadap keberadaan Wangsa
Penutup
Contoh judul ulasan lain:
Sampah Bulan Desember, Jakarta Dulu, Kini, dan Esok
Saman: Cerminan Kesetaraan Gender
3. Pendekatan ekspresif
Pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan, sebagai hasil imajinasi pengarang, pikiran-pikiran dan perasaannya. Pendekatan ini cenderung menimbang karya sastra dengan keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokannya dengan visi atau keadaan pikiran dan kejiwaan pengarang.
Telaah ini didasarkan pada teori ekspresif yang memandang suatu karya seni yang secara esensial sebagai dunia internal (pengarang) yang terungkap sehingga menjadi dunia eksternal (berupa karya seni); perwujudannya melalui proses kreatif, dengan titik tolak dorongan perasaan pengarang; dan hasilnya adalah kombinasi antara persepsi, pikiran dan perasaan pengarangnya.
Sumber utama dan pokok masalah suatu novel, misalnya, adalah sifat-sifat dan tindakan-tindakan yang berasal dari pemikiran pengarangnya.
Di sisi lain Rohrberger dan Woods (1971:8) memandang pendekatan ekspresif ini sebagai pendekatan biografis. Pendekatan biografis menyaran pada perlunya suatu apresiasi terhadap gagasan-gagasan dan kepribadian pengarang untuk memahami obyek literer. Atas dasar pendekatan ini, karya seni dipandang sebagai refleksi kepribadian pengarang, yang atas dasar pengalaman estetis pembaca dapat menangkap kesadaran pengarangnya; dan yang setidak-tidaknya.sebagian respon pembaca mengarah kepada kepribadian pengarangnya. Untuk itu, dengan pendekatan ekspresif penelaah hendaknya mempelajari pengetahuan tentang pribadi pengarang guna memahami karya seninya).
Telaah dengan pendekatan ekspresif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, imajinasi, spontatanitasnya dan sebagainya
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Para Priayi
Pengarang : Umar Kayam
Penerbit : Grafiti Press, Jakarta
Judul Ulasan : Memaknai Ekapresi Umar Kayam dalam Novel Para Priayi
1) Pengantar; hubungan sastra dengan pengarang khususnya Kayam
2) Pendekatan ekspresif
3) Memahami pengucapan Umar Kayam dalam PP
i. Ringkasan novel
ii. Konflik sistem nilai dan sistem kebudayaan nasional
iii. Pembaharuan estetik
4) Penutup
Contoh judul ulasan lain:
Pergulatan Spiritual “Raja Penyair Pujangga Baru” Amir Hamzah
4. Pendekatan pragmatik
Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca (keindahan, pendidikan, dan lain-lain). Pendekatan ini cenderung menimbang nilai berdasarkan keberhasilan tujuan pengarang bagi pembaca.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Belenggu
Pengarang : Armjin Pane
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Judul Ulasan : Belenggu: Refleksi Tentang Kematian Keluarga
Ulasan ini dibuka dengan pertanyaan dan pendapat tentang fenomena keluarga modern. Pembahasan kemudian masuk kepada isi novel Belenggu yang menceritakan konflik-konflik yang dialami oleh sebuah keluarga modern, mulai dari hal-hal kecil seperti kesibukan masing-masing anggota keluarga sampai hal-hal yang mendasar mengenai kehidupan rumah tangga, yang makin memuncak dan pada akhirnya menukik pada perceraian keluarga. Ulasan ini ditutup dengan makna keluarga dipandang dari sudut seni khususnya sastra.
Contoh judul ulasan lain:
Pulang Karya Toha Mochtar: Membangun Mentalitas Manusia Indonesia Baru
5. Pendekatan interdisipliner
Pendekatan interdisipliner dalam studi sastra mengacu kepada pendekatan yang melibatkan sejumlah disiplin sosial/ humaniora lainnya. Dalam studi sastra dengan pendekatan interdisipliner, kita mungkin memanfaatkan kajian sejarah, sosiologi, pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya dalam yang seluas-luasnya. Pendekatan mikro-makro merupakan salah satu pendekatan yang dimanfaatkan dalam studi ini.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Langkah-langkah ini pernah dilakukan Fatchul Mu’in (2001) ketika dia menelaah novel Native Son karya Richard Wright dalam tesisnya yang berjudul “Richard Wright’s Native Son: A Study of White Domination and Its Effects on African Americans”. Katanya :”In implementing those approaches, the writer of this thesis comprehends Richard Wright’s Native Son on the basis of its written text, then regards it as Richard Wright’s experience, feeling, imagination, perceptions, etc. After that the writer relates it (the novel) to the universe or the American life as the background of the production of the novel. (dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan itu, penulis tesis ini memahami Native Son karya Richard Wright atas dasar teks tertulisnya, kemudian memandangnya sebagai ungkapan pengarang novel itu tentang pengamalannya, perasaannya, imajinasinya dan sebagainya. Setelah itu, dia menghubungkan novel itu dengan realitas atau kehidupan Amerika sebagai latar belakang penulisan novel itu sendiri)”.
Dilihat dari sudut pandang penciptaan atau kepengarangan, dapat dikatakan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari sang pengarangnya. Dalam kaitan ini, dalam proses kepengarangan, sang pengarang itu tentu tidak asal mengarang atau menulis karya sastra; dia tentu terlebih dahulu melakukan observasi dan lalu melakukan komtemplasi (perenungan) atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Melalui proses observasi dan komtemplasi, dia melakukan imajinasi dakam rangka untuk menciptakan karya sastra (berkreasi). Singkat kata, melalui proses-proses itu maka terwujudlah suatu karya sastra.
Karena karya sastra banyak berkait dengan persoalan-persoalan kemanusia, maka untuk dapat memahaminya kita perlu mengkaitkannya dengan bidang-bidang atau disiplin-disiplin sosial/ humaniora lainnya. Pemahaman dengan cara yang demikian mengacu kepada pemahaman karya sastra secara interdisipliner.
Ketika melakukan telaah sastra untuk tesis S-2, Fatchul Mu’in (2001) mengetengahkan : “In American Studies Study, a literary work is regarded as a mental evidence to explain American culture as a whole; a literary work is regarded as a microcosm which is used to explain a microcosm. Richard Wright’s Native Son is a literary work portraying a black man’s life. Thus, Bigger Thomas as a black man in the novel is a representative of the black people; whereas the Dalton family is a representation of the white people (dalam studi pengkajian Amerika, suatu karya sastra dipandang sebagai bukti mental (mental evidence) untuk menjelaskan kebudayaan Amerika secara luas (yang menyangkut keseluruhan hubungan dan akibat hubungan antara orang-orang kulit putih dan kulit hitam); suatu karya sastra dipandang sebagai dunia kecil (mikrokosmos) yang dimanfaatkan untuk menjelaskan dunia besar (makrokosmos). Novel Native Son karya Richard Wright yang menggambarkan kehidupan seorang kulit hitam. Jadi, Bigger Thomas sebagai seorang kulit hitam dalam novel itu merupakan perwujudan dari orang-orang Amerika kulit hitam; sedangkan keluarga Dalton merupakan perwujudan orang-orang Amerika kulit putih)”.
Contoh ulasan lain:
Dimensi Psikologis “Robohnya Surau Kami” karya A.Navis
Ziarah : Refleksi Teologis Kematian Manusia
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1993 . A Glossary of Literary Terms. Fort Worth : Harcourt Brace Press.
Fatchul Mu’in. 2001. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. (Thesis S-2). Yogyakarta : Gadjah Mada University
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Lomba Mengulas Karya Sastra 2007.
Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.
McDowell, Tremaine. 1948. American Studies. Menneapolis: The Universitas of Menneapolis.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wright, Richard. 1966. Native Son. New York : Harper & Row Publishers, Inc.
MENGULAS KARYA SASTRA UNTUK SMA
Menganalisis, mengulas, menafsir, dan menilai karya sastra berarti menjadikan suatu karya sastra sebagai orientasi pembahasan, pengulasan, penafsiran, ataupun penilaian. Pada hakikatnya kegiatan mengulas karya sastra berdasar pada keseluruhan karya sastra yang mencakup alam kehidupan, pembaca, penulis, dan karya sastra. Berdasarkan pandangan itu, ada empat pendekatan dalam mengulas sastra, yaitu (1) pendekatan objektif, (2) pendekatan mimetik, (3) pendekatan ekspresif, (4) pendekatan pragmatik (Abrams dalam Djoko Pradopo, 1995: 94), dan satu pendekatan lain yang lebih kompleks, yaitu (5) pendekatan interdisipliner.
1. Pendekatan objektif
Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai sesuatu yang mandiri, otonom, bebas, bebas dari pengarang, pembaca dan dunia sekelilingnya. Pendekatan ini cenderung menerangkan karya sastra atas kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling hubung unsur-unsur yang membentuk karya sastra. Telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif sering dikenal dengan telaah struktural, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan tema, peristiwa, tokoh, alur, setting, sudut pandangan, diksi yang terdapat dalam karya sastra.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Orang-orang Proyek
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2007
Judul ulasan : Orang-orang Proyek dalam Lingkar Hermeneutik
Ulasan ini dibuka dengan penjelasan tentang kerangka teoretik pendektan objektif dari beberapa ahli sastra seperti Abram, Teew, Hardiman, dan Ricour. Kemudian penulis mulai mengulas novel mulai dari makna judul, kemudian tema, tokoh, alur, nilai-nilai, makna novel secara keseluruhan. Masing-masing bagian novel itu diulas menggunakan rujukan baik mengenai teorinya maupun data sebagai bukti dari teks.
Contoh judul ulasan lain:
Hujan Menulis Ayam: Teks Narasi Sutardji Colsum Bachcri
Keunikan Bahasa Pengucapan Ayu Utami dalam Novel Saman
2. Pendekatan mimetik
Pedekatan ini memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah kebenaran representasi objek-objke yang digambarkan ataupun yang hendak digambarkan.
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu. Perhatian penelaah adalah pada “the rela¬tionship between the work of art and the universe that it pretends to produce (hubungan antara karya seni dan realitas yang melatarbelakangi kemunculannya).
Dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan di atas, penelaah pertama memahami suatu karya atas dasar teks tertulis; kedua dia memandang teks tertulis itu sebagai pengungkapan pengalaman, perasaan, imajinasi, persepsi, sikap dan sebagainya; dan kedua dia menghubungkannya dengan realitas yang terjadi di masyarakatnya.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul : Sagra (kumpulan cerpen)
Pengarang : Oka Rukmini
Penerbit :
Judul Ulasan : Sisi Gelap Pulau Bali dalam Sagra
Kerangka ulasan:
Kondisi Bali selama ini: ketenaran, konflik, persoalan
Novel-novel lain tentang Bali
Tafsir keliru tenatang kasta dengan berbagai rujukan
Potret buram pulau Bali dalam Sagra
Sikap narator terhadap keberadaan Wangsa
Penutup
Contoh judul ulasan lain:
Sampah Bulan Desember, Jakarta Dulu, Kini, dan Esok
Saman: Cerminan Kesetaraan Gender
3. Pendekatan ekspresif
Pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan, sebagai hasil imajinasi pengarang, pikiran-pikiran dan perasaannya. Pendekatan ini cenderung menimbang karya sastra dengan keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokannya dengan visi atau keadaan pikiran dan kejiwaan pengarang.
Telaah ini didasarkan pada teori ekspresif yang memandang suatu karya seni yang secara esensial sebagai dunia internal (pengarang) yang terungkap sehingga menjadi dunia eksternal (berupa karya seni); perwujudannya melalui proses kreatif, dengan titik tolak dorongan perasaan pengarang; dan hasilnya adalah kombinasi antara persepsi, pikiran dan perasaan pengarangnya.
Sumber utama dan pokok masalah suatu novel, misalnya, adalah sifat-sifat dan tindakan-tindakan yang berasal dari pemikiran pengarangnya.
Di sisi lain Rohrberger dan Woods (1971:8) memandang pendekatan ekspresif ini sebagai pendekatan biografis. Pendekatan biografis menyaran pada perlunya suatu apresiasi terhadap gagasan-gagasan dan kepribadian pengarang untuk memahami obyek literer. Atas dasar pendekatan ini, karya seni dipandang sebagai refleksi kepribadian pengarang, yang atas dasar pengalaman estetis pembaca dapat menangkap kesadaran pengarangnya; dan yang setidak-tidaknya.sebagian respon pembaca mengarah kepada kepribadian pengarangnya. Untuk itu, dengan pendekatan ekspresif penelaah hendaknya mempelajari pengetahuan tentang pribadi pengarang guna memahami karya seninya).
Telaah dengan pendekatan ekspresif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, imajinasi, spontatanitasnya dan sebagainya
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Para Priayi
Pengarang : Umar Kayam
Penerbit : Grafiti Press, Jakarta
Judul Ulasan : Memaknai Ekapresi Umar Kayam dalam Novel Para Priayi
1) Pengantar; hubungan sastra dengan pengarang khususnya Kayam
2) Pendekatan ekspresif
3) Memahami pengucapan Umar Kayam dalam PP
i. Ringkasan novel
ii. Konflik sistem nilai dan sistem kebudayaan nasional
iii. Pembaharuan estetik
4) Penutup
Contoh judul ulasan lain:
Pergulatan Spiritual “Raja Penyair Pujangga Baru” Amir Hamzah
4. Pendekatan pragmatik
Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca (keindahan, pendidikan, dan lain-lain). Pendekatan ini cenderung menimbang nilai berdasarkan keberhasilan tujuan pengarang bagi pembaca.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Belenggu
Pengarang : Armjin Pane
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Judul Ulasan : Belenggu: Refleksi Tentang Kematian Keluarga
Ulasan ini dibuka dengan pertanyaan dan pendapat tentang fenomena keluarga modern. Pembahasan kemudian masuk kepada isi novel Belenggu yang menceritakan konflik-konflik yang dialami oleh sebuah keluarga modern, mulai dari hal-hal kecil seperti kesibukan masing-masing anggota keluarga sampai hal-hal yang mendasar mengenai kehidupan rumah tangga, yang makin memuncak dan pada akhirnya menukik pada perceraian keluarga. Ulasan ini ditutup dengan makna keluarga dipandang dari sudut seni khususnya sastra.
Contoh judul ulasan lain:
Pulang Karya Toha Mochtar: Membangun Mentalitas Manusia Indonesia Baru
5. Pendekatan interdisipliner
Pendekatan interdisipliner dalam studi sastra mengacu kepada pendekatan yang melibatkan sejumlah disiplin sosial/ humaniora lainnya. Dalam studi sastra dengan pendekatan interdisipliner, kita mungkin memanfaatkan kajian sejarah, sosiologi, pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya dalam yang seluas-luasnya. Pendekatan mikro-makro merupakan salah satu pendekatan yang dimanfaatkan dalam studi ini.
Contoh penerapan pendekatan ini:
Langkah-langkah ini pernah dilakukan Fatchul Mu’in (2001) ketika dia menelaah novel Native Son karya Richard Wright dalam tesisnya yang berjudul “Richard Wright’s Native Son: A Study of White Domination and Its Effects on African Americans”. Katanya :”In implementing those approaches, the writer of this thesis comprehends Richard Wright’s Native Son on the basis of its written text, then regards it as Richard Wright’s experience, feeling, imagination, perceptions, etc. After that the writer relates it (the novel) to the universe or the American life as the background of the production of the novel. (dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan itu, penulis tesis ini memahami Native Son karya Richard Wright atas dasar teks tertulisnya, kemudian memandangnya sebagai ungkapan pengarang novel itu tentang pengamalannya, perasaannya, imajinasinya dan sebagainya. Setelah itu, dia menghubungkan novel itu dengan realitas atau kehidupan Amerika sebagai latar belakang penulisan novel itu sendiri)”.
Dilihat dari sudut pandang penciptaan atau kepengarangan, dapat dikatakan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari sang pengarangnya. Dalam kaitan ini, dalam proses kepengarangan, sang pengarang itu tentu tidak asal mengarang atau menulis karya sastra; dia tentu terlebih dahulu melakukan observasi dan lalu melakukan komtemplasi (perenungan) atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Melalui proses observasi dan komtemplasi, dia melakukan imajinasi dakam rangka untuk menciptakan karya sastra (berkreasi). Singkat kata, melalui proses-proses itu maka terwujudlah suatu karya sastra.
Karena karya sastra banyak berkait dengan persoalan-persoalan kemanusia, maka untuk dapat memahaminya kita perlu mengkaitkannya dengan bidang-bidang atau disiplin-disiplin sosial/ humaniora lainnya. Pemahaman dengan cara yang demikian mengacu kepada pemahaman karya sastra secara interdisipliner.
Ketika melakukan telaah sastra untuk tesis S-2, Fatchul Mu’in (2001) mengetengahkan : “In American Studies Study, a literary work is regarded as a mental evidence to explain American culture as a whole; a literary work is regarded as a microcosm which is used to explain a microcosm. Richard Wright’s Native Son is a literary work portraying a black man’s life. Thus, Bigger Thomas as a black man in the novel is a representative of the black people; whereas the Dalton family is a representation of the white people (dalam studi pengkajian Amerika, suatu karya sastra dipandang sebagai bukti mental (mental evidence) untuk menjelaskan kebudayaan Amerika secara luas (yang menyangkut keseluruhan hubungan dan akibat hubungan antara orang-orang kulit putih dan kulit hitam); suatu karya sastra dipandang sebagai dunia kecil (mikrokosmos) yang dimanfaatkan untuk menjelaskan dunia besar (makrokosmos). Novel Native Son karya Richard Wright yang menggambarkan kehidupan seorang kulit hitam. Jadi, Bigger Thomas sebagai seorang kulit hitam dalam novel itu merupakan perwujudan dari orang-orang Amerika kulit hitam; sedangkan keluarga Dalton merupakan perwujudan orang-orang Amerika kulit putih)”.
Contoh ulasan lain:
Dimensi Psikologis “Robohnya Surau Kami” karya A.Navis
Ziarah : Refleksi Teologis Kematian Manusia
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1993 . A Glossary of Literary Terms. Fort Worth : Harcourt Brace Press.
Fatchul Mu’in. 2001. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. (Thesis S-2). Yogyakarta : Gadjah Mada University
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Lomba Mengulas Karya Sastra 2007.
Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.
McDowell, Tremaine. 1948. American Studies. Menneapolis: The Universitas of Menneapolis.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wright, Richard. 1966. Native Son. New York : Harper & Row Publishers, Inc.
Label:
ekspresif,
interdisipliner,
mimetik,
objektif,
pragmatik
Senin, 28 September 2009
cerpen
Atas Nama Batu
Menuju puncak gunung Merapi, ratusan truk antri membentuk dua barisan, berjalan berlawanan, sesekali berhenti saat berpapasan. Aku berada di barisan yang menuju padang batu bersama para kuli, sopir dan pelacur jalanan. Aku merasa asing berada di antara mereka.
Ketika truk yang hari itu kutumpangi berjalan tersendat-sendat mendekati padang batu, seorang anak berlari sambil memanggil-manggil ibunya ingin menceritakan tentang apa yang dilihatnya.
“Ibu, apa yang sedang terjadi? Batu-batu meloncat-loncat kegirangan dari suatu tempat ke tempat lain. Dari puncak gunung turun ke lembah, ke hamparan sawah petani. Lalu berpindah tempat dari desa ke desa, dari desa ke kota dan dari kota ke kota. Berikutnya dari rumah penduduk ke kantor-kantor, ke sekolah-sekolah, ke penjara-penjara, ke gedung-gedung bertingkat dan akhirnya berkumpul di PT DPR RI Jakarta. Kemudian menggelinding bandel ke jalan-jalan desa dan kota. Bergerak serba cepat bersama angin panas yang tak tentu arah mengenai wajah, kepala, dada, perut, kemaluan hingga yang terkena itu memar, bengkak, benjut, sesak, mendongkol, luka menganga dan robek. Ibu, aku ingin mengambil dan memeluk batu itu tanpa memisahkannya dari gunung, tanah dan sungai. Aku ingin mencurahkan dan mengabdikan diriku pada batu tanpa menggoresnya. Aku ingin membangun rumah batu tanpa memukul dan menghancurkannya. Aku ingin memanjat dinding batu tanpa menginjak-injak. Aku ingin memohon kelembutan batu tanpa menyakitinya. Aku ingin tapi ….”
“Buat apa? Bersahabat dengan batu, memohon kepada batu. Bukankah batu itu bisu. Engkau memohon kelembutannya tidaklah harus memintanya supaya memberi nasihat dengan kata-kata dari serat-serat yang tercetak di permukaannya. Engkau memetik cinta tidaklah harus dengan kata-kata. Engkau mendengar kepastian jawabannya tidaklah harus lewat kata-kata,” kata Ibunya menenangkan.
“Tapi Ibu…, batu-batu itu makin cepat berpindah tempat, bergeser saling menggantikan kedudukan. Melesat tiba-tiba dari satu pulau ke pulau yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dari satu benua ke benua yang lain menyeberangi samodra luas?”
Ibu itu terdiam. Dalam diamnya hatinya juga berkata. “Ya. Ada apa sebenarnya? Para orang tua murid bersimpuh di depan kuburan anaknya, menangis terisak-isak mengenang anaknya yang telah menjadi batu karena batu. Di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah batu-batu beterbangan, meloncat-loncat kebingungan, melayang-layang seperti mabuk kebanyakan pil koplo, frustrasi kebanyakan permasalahan yang tak kunjung selesai. Apa yang sedang terjadi?”
Anak itu lalu tampak sedih. Butiran batu-batu kecil berkilauan keperakan keluar dari matanya.Wajah, kepala, dada, perut, dan kemaluannya kaku membatu. Dalam kekakuannya terdengar lirih anak itu memohon kelembutan kepada batu. Kini ia terbujur kaku di padang batu. Batu-batu nakal serba kampungan menganggu dan mengejek kekakuannya. Ia ingin marah tapi ia sudah tak bertenaga. Tangan dan kakinya kaku. Ia benci pada dirinya sendiri.
“Mengapa engkau tidak sekuat batu. Meski diinjak, digiling, dipukul, dihancurkan tetap keras dan bisu? Ya, engkau memang bukan batu. Engkau hanya seperti batu, belum menjadi batu. Tak selamanya engkau keras seperti batu. Alam ini sudah mengatur kapan engkau harus keras membatu dan kapan engkau harus lembut seperti debu. Kekerasan batu masih bisa dihancurkan, tapi bagaimana mengusap atau menghempaskan debu yang terselip di mata? Nah, … ini soal manusia, termasuk kau juga. Engkau tidaklah harus menjadi batu atau debu. Engkau tidaklah harus menghancurkan batu untuk menjadikannya debu,“ kata Ibunya memberi pengertian.
Aku menjadi serba salah. Sekurang-kurangnya sekarang aku sedang dihadapkan pada kesulitan tentang bagaimana agar aku tetap bisa hidup tegar dan kuat. Selama ini aku hanya bisa menerima dan memilih, memilih dan menerima begitu saja. Diriku telah tercerabut dari tanah. Bagaimana aku bisa tumbuh, bersemi, dan berbunga?
Sementara para orang tua berkali-kali memandang diriku permata yang tak boleh jatuh di tanah yang seharusnya tempat aku berpijak. Para guru berkali-kali menjejali diriku dengan pengetahuan bahwa batu itu keras dan oleh karena itu harus dihancurkan. Para tukang batu memberiku pelajaran memfungsikan batu dengan cara memukul dan menghancurkannya untuk membangun rumah permanen. Para pemahat memberiku pelajaran seni dengan cara memukul-mukul ringan sambil tangan yang satunya menusuk-nusukkan pahat menurut seleranya sendiri. Para pendidik memberiku pelajaran moral agar aku tidak melemparkan batu pada sesamanya. Para politikus menanamkan persepsi kepadaku bahwa negara dan bangsa bukan bangunan batu-batu anarki.
Rupanya batu telah menjadi pribadi batu dengan berbagai teknik peleburan dan pencetakan gaya baru.
Di padang batu anganku bergulir di antara batu-batu. Aku ingin mencari guritan-guritan yang telah kabur ditelan jaman, meringkuk dalam cahaya gelap malam, menunggu datangnya kelembutan jiwa sang batu.
Dalam kegelapan pekat itu, aku merasa getaran hidup mengalir ke dalam tubuhku mengatasi kebekuan. Tak jauh dari tempatku terpuruk, jiwaku melihat batu-batu saling berpelukan mesra, saling menindih, saling menukarkan kehangatan menurut bahasa citra mereka. Kekuatan dahsyat yang selalu menjadi tanda tanya peradaban sepanjang jaman sejak awal kejadian hingga kini dan akhir jaman. Batu dengan batu bercengkerama menikmati kelembutan. Binatang-binatang kecil bertalu memulai suatu pentas. Di kejauhan lampu-lampu kecil berkedip-kedip sempurna seakan menyampaikan pesan ilahi, menghiasi pelataran panggung kehidupan. Pelan-pelan rembulan menampakan diri di layar lebar tersenyum tenang meneguhkan kesibukan kawan-kawannya. Angin mengajak dedaunan bermain musik malam. Paduan suara pun lembut mengalun. Sapu Jagad membuka atraksi dengan menyemburkan api ke angkasa berkali-kali. Para batu menari telajang bulat. Gerakan dan musiknya selaras mengikuti irama alam. Pujian kelembutan pun bergema ke angkasa. Dan rembulan tersenyum menyaksikan bintang dan batu meneguk kepuasan malam nan indah dan dahsyat.
Baru saja acara pembukaan pentas selesai, angin semilir menerpa telingaku membisikkan kabar memprihatinkan. “Malam ini di ibu kota terjadi kekerasan. Batu pelindung kemuliaan dihancurkan oleh batu keji. Pengecut tak dikenal. Batu-batu yang menjadi podasi PT DPR dan istana presiden terancam runtuh oleh batu-batu yang sulit dibedakan mana yang sebenarnya layak dan mana yang sebenarnya rapuh. Batu-batu yang datang dari daerah berhamburan ke jalan raya membuat kemacetan.”
Tiba-tiba, suasana mengerut sunyi. Alam membisu. Angin basah mengusap wajah batu-batu alam.
Aku bimbang menentukan pilihan antara kenyataan dan angan. Di gunung aku mengangumi keteguhannya, di kota, aku memberontaki kekerasan bisunya. “Ini jelas soal manusia, bukan soal batu. Kekeroposan batu tampak jelas. Sedang keroposnya manusia tak bisa diraba dan diterka. Di antara batu-batu, mana yang keras dan mana yang kuat dapat dipilah. Sedangkan di antara manusia, mana yang keras dan mana yang teguh sulit dipisah. Dengan kekuatannya, batu dapat menjadi gedung-gedung tinggi dan candi, jalan raya dan gereja. Manusia menjadi apa dengan kekuatannya? Mana yang sesungguhnya ada? Mana yang sebenarnya berjasa. Batu atau manusia?” tanya pikiranku.
Barangkali benar bahwa zaman ini ditandai dengan pengunaan alat-alat rumah tangga dan berburu dari batu seperti beribu-ribu tahun yang lalu. Batu yang dikerjakan secara kasar dan tanpa diasah. Tempat tinggalnya tidak menetap, pekerjaannya berburu dan meramu.
“Kawan …. Mau dikemanakan zaman ini? Bukankah mereka jauh lebih maju? Bukankah mereka sudah demikian canggih menghadapi segala perihal hidup? Bukankah mereka berpendidikan hebat-hebat? Dan bukankah mereka tahu segala hal tentang hidup dan bagaimana hidup untuk masa yang panjang? Mereka bukan bangsa batu. Mereka dapat memilih: peradaban atau batu, batu atau peradaban, batu peradaban atau peradaban batu? Tapi aku tidak. Aku tak biasa memilih apalagi hal-hal yang sebenarnya slogan kosong itu. Bagaimana mungkin aku yang kosong dapat memilih yang kosong? Aku sudah tercetak sedemikian maju untuk selalu menjaga keindahan permataku di antara makhluk-makhluk lain di sekitarku. Tapi aku heran, mengapa batu bersama dengan batu yang lain bisa berpadu dalam perubahan waktu?”
“Bukankah engkau yang membuatnya begitu? Bukankah engkau yang merekatkan batu-batu itu menjadi gedung-gedung, jalan-jalan, dan candi beribu-ribu?” kata aku yang lain.
“Aku? Bukan. Aku hanya menatanya dengan perekat tanah dan air sungai.”
“Kalau batu-batu bisa engkau rekatkan dengan tanah dan air, tidakkah engkau juga bisa merekatkan engkau sendiri dengan engkau yang lain dengan perekat?”
“Itulah masalahnya. Untuk batu jelas. Kompisi tanah dan air seimbang, beres. Tapi terlalu banyak tanah atau air, susunan batu bisa longsor. Selain kompisi, struktur juga menentukan. Apalagi struktur yang tidak terlihat. Struktur tanah ada yang gersang dan ada yang lembab. Tanah di desa atau di kota juga demikian keadaannya. Barangkali ada tempat lain yang tidak gersang dan juga tidak lembab? Tentu akan lebih sulit untuk merekatkannya.”
“Masalahnya bukan itu. Masalahnya ada pada engkau sendiri. Berapa kadar tanah dan air dalam dirimu sendiri,” tegas kesunyian sambil menaruh embun di atas batu-batu.
Tak lama kemudian cahaya pagi menyibak kebisuan. Aku tersadarkan diri. Truk-truk pengangkut batu mulai berangkat ke kota. Entah kenapa lalu aku ingin sekali cepat bertemu dengan Ibu yang pernah mengajariku bagaimana merekatkan batu-batu.
Menuju puncak gunung Merapi, ratusan truk antri membentuk dua barisan, berjalan berlawanan, sesekali berhenti saat berpapasan. Aku berada di barisan yang menuju padang batu bersama para kuli, sopir dan pelacur jalanan. Aku merasa asing berada di antara mereka.
Ketika truk yang hari itu kutumpangi berjalan tersendat-sendat mendekati padang batu, seorang anak berlari sambil memanggil-manggil ibunya ingin menceritakan tentang apa yang dilihatnya.
“Ibu, apa yang sedang terjadi? Batu-batu meloncat-loncat kegirangan dari suatu tempat ke tempat lain. Dari puncak gunung turun ke lembah, ke hamparan sawah petani. Lalu berpindah tempat dari desa ke desa, dari desa ke kota dan dari kota ke kota. Berikutnya dari rumah penduduk ke kantor-kantor, ke sekolah-sekolah, ke penjara-penjara, ke gedung-gedung bertingkat dan akhirnya berkumpul di PT DPR RI Jakarta. Kemudian menggelinding bandel ke jalan-jalan desa dan kota. Bergerak serba cepat bersama angin panas yang tak tentu arah mengenai wajah, kepala, dada, perut, kemaluan hingga yang terkena itu memar, bengkak, benjut, sesak, mendongkol, luka menganga dan robek. Ibu, aku ingin mengambil dan memeluk batu itu tanpa memisahkannya dari gunung, tanah dan sungai. Aku ingin mencurahkan dan mengabdikan diriku pada batu tanpa menggoresnya. Aku ingin membangun rumah batu tanpa memukul dan menghancurkannya. Aku ingin memanjat dinding batu tanpa menginjak-injak. Aku ingin memohon kelembutan batu tanpa menyakitinya. Aku ingin tapi ….”
“Buat apa? Bersahabat dengan batu, memohon kepada batu. Bukankah batu itu bisu. Engkau memohon kelembutannya tidaklah harus memintanya supaya memberi nasihat dengan kata-kata dari serat-serat yang tercetak di permukaannya. Engkau memetik cinta tidaklah harus dengan kata-kata. Engkau mendengar kepastian jawabannya tidaklah harus lewat kata-kata,” kata Ibunya menenangkan.
“Tapi Ibu…, batu-batu itu makin cepat berpindah tempat, bergeser saling menggantikan kedudukan. Melesat tiba-tiba dari satu pulau ke pulau yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dari satu benua ke benua yang lain menyeberangi samodra luas?”
Ibu itu terdiam. Dalam diamnya hatinya juga berkata. “Ya. Ada apa sebenarnya? Para orang tua murid bersimpuh di depan kuburan anaknya, menangis terisak-isak mengenang anaknya yang telah menjadi batu karena batu. Di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah batu-batu beterbangan, meloncat-loncat kebingungan, melayang-layang seperti mabuk kebanyakan pil koplo, frustrasi kebanyakan permasalahan yang tak kunjung selesai. Apa yang sedang terjadi?”
Anak itu lalu tampak sedih. Butiran batu-batu kecil berkilauan keperakan keluar dari matanya.Wajah, kepala, dada, perut, dan kemaluannya kaku membatu. Dalam kekakuannya terdengar lirih anak itu memohon kelembutan kepada batu. Kini ia terbujur kaku di padang batu. Batu-batu nakal serba kampungan menganggu dan mengejek kekakuannya. Ia ingin marah tapi ia sudah tak bertenaga. Tangan dan kakinya kaku. Ia benci pada dirinya sendiri.
“Mengapa engkau tidak sekuat batu. Meski diinjak, digiling, dipukul, dihancurkan tetap keras dan bisu? Ya, engkau memang bukan batu. Engkau hanya seperti batu, belum menjadi batu. Tak selamanya engkau keras seperti batu. Alam ini sudah mengatur kapan engkau harus keras membatu dan kapan engkau harus lembut seperti debu. Kekerasan batu masih bisa dihancurkan, tapi bagaimana mengusap atau menghempaskan debu yang terselip di mata? Nah, … ini soal manusia, termasuk kau juga. Engkau tidaklah harus menjadi batu atau debu. Engkau tidaklah harus menghancurkan batu untuk menjadikannya debu,“ kata Ibunya memberi pengertian.
Aku menjadi serba salah. Sekurang-kurangnya sekarang aku sedang dihadapkan pada kesulitan tentang bagaimana agar aku tetap bisa hidup tegar dan kuat. Selama ini aku hanya bisa menerima dan memilih, memilih dan menerima begitu saja. Diriku telah tercerabut dari tanah. Bagaimana aku bisa tumbuh, bersemi, dan berbunga?
Sementara para orang tua berkali-kali memandang diriku permata yang tak boleh jatuh di tanah yang seharusnya tempat aku berpijak. Para guru berkali-kali menjejali diriku dengan pengetahuan bahwa batu itu keras dan oleh karena itu harus dihancurkan. Para tukang batu memberiku pelajaran memfungsikan batu dengan cara memukul dan menghancurkannya untuk membangun rumah permanen. Para pemahat memberiku pelajaran seni dengan cara memukul-mukul ringan sambil tangan yang satunya menusuk-nusukkan pahat menurut seleranya sendiri. Para pendidik memberiku pelajaran moral agar aku tidak melemparkan batu pada sesamanya. Para politikus menanamkan persepsi kepadaku bahwa negara dan bangsa bukan bangunan batu-batu anarki.
Rupanya batu telah menjadi pribadi batu dengan berbagai teknik peleburan dan pencetakan gaya baru.
Di padang batu anganku bergulir di antara batu-batu. Aku ingin mencari guritan-guritan yang telah kabur ditelan jaman, meringkuk dalam cahaya gelap malam, menunggu datangnya kelembutan jiwa sang batu.
Dalam kegelapan pekat itu, aku merasa getaran hidup mengalir ke dalam tubuhku mengatasi kebekuan. Tak jauh dari tempatku terpuruk, jiwaku melihat batu-batu saling berpelukan mesra, saling menindih, saling menukarkan kehangatan menurut bahasa citra mereka. Kekuatan dahsyat yang selalu menjadi tanda tanya peradaban sepanjang jaman sejak awal kejadian hingga kini dan akhir jaman. Batu dengan batu bercengkerama menikmati kelembutan. Binatang-binatang kecil bertalu memulai suatu pentas. Di kejauhan lampu-lampu kecil berkedip-kedip sempurna seakan menyampaikan pesan ilahi, menghiasi pelataran panggung kehidupan. Pelan-pelan rembulan menampakan diri di layar lebar tersenyum tenang meneguhkan kesibukan kawan-kawannya. Angin mengajak dedaunan bermain musik malam. Paduan suara pun lembut mengalun. Sapu Jagad membuka atraksi dengan menyemburkan api ke angkasa berkali-kali. Para batu menari telajang bulat. Gerakan dan musiknya selaras mengikuti irama alam. Pujian kelembutan pun bergema ke angkasa. Dan rembulan tersenyum menyaksikan bintang dan batu meneguk kepuasan malam nan indah dan dahsyat.
Baru saja acara pembukaan pentas selesai, angin semilir menerpa telingaku membisikkan kabar memprihatinkan. “Malam ini di ibu kota terjadi kekerasan. Batu pelindung kemuliaan dihancurkan oleh batu keji. Pengecut tak dikenal. Batu-batu yang menjadi podasi PT DPR dan istana presiden terancam runtuh oleh batu-batu yang sulit dibedakan mana yang sebenarnya layak dan mana yang sebenarnya rapuh. Batu-batu yang datang dari daerah berhamburan ke jalan raya membuat kemacetan.”
Tiba-tiba, suasana mengerut sunyi. Alam membisu. Angin basah mengusap wajah batu-batu alam.
Aku bimbang menentukan pilihan antara kenyataan dan angan. Di gunung aku mengangumi keteguhannya, di kota, aku memberontaki kekerasan bisunya. “Ini jelas soal manusia, bukan soal batu. Kekeroposan batu tampak jelas. Sedang keroposnya manusia tak bisa diraba dan diterka. Di antara batu-batu, mana yang keras dan mana yang kuat dapat dipilah. Sedangkan di antara manusia, mana yang keras dan mana yang teguh sulit dipisah. Dengan kekuatannya, batu dapat menjadi gedung-gedung tinggi dan candi, jalan raya dan gereja. Manusia menjadi apa dengan kekuatannya? Mana yang sesungguhnya ada? Mana yang sebenarnya berjasa. Batu atau manusia?” tanya pikiranku.
Barangkali benar bahwa zaman ini ditandai dengan pengunaan alat-alat rumah tangga dan berburu dari batu seperti beribu-ribu tahun yang lalu. Batu yang dikerjakan secara kasar dan tanpa diasah. Tempat tinggalnya tidak menetap, pekerjaannya berburu dan meramu.
“Kawan …. Mau dikemanakan zaman ini? Bukankah mereka jauh lebih maju? Bukankah mereka sudah demikian canggih menghadapi segala perihal hidup? Bukankah mereka berpendidikan hebat-hebat? Dan bukankah mereka tahu segala hal tentang hidup dan bagaimana hidup untuk masa yang panjang? Mereka bukan bangsa batu. Mereka dapat memilih: peradaban atau batu, batu atau peradaban, batu peradaban atau peradaban batu? Tapi aku tidak. Aku tak biasa memilih apalagi hal-hal yang sebenarnya slogan kosong itu. Bagaimana mungkin aku yang kosong dapat memilih yang kosong? Aku sudah tercetak sedemikian maju untuk selalu menjaga keindahan permataku di antara makhluk-makhluk lain di sekitarku. Tapi aku heran, mengapa batu bersama dengan batu yang lain bisa berpadu dalam perubahan waktu?”
“Bukankah engkau yang membuatnya begitu? Bukankah engkau yang merekatkan batu-batu itu menjadi gedung-gedung, jalan-jalan, dan candi beribu-ribu?” kata aku yang lain.
“Aku? Bukan. Aku hanya menatanya dengan perekat tanah dan air sungai.”
“Kalau batu-batu bisa engkau rekatkan dengan tanah dan air, tidakkah engkau juga bisa merekatkan engkau sendiri dengan engkau yang lain dengan perekat?”
“Itulah masalahnya. Untuk batu jelas. Kompisi tanah dan air seimbang, beres. Tapi terlalu banyak tanah atau air, susunan batu bisa longsor. Selain kompisi, struktur juga menentukan. Apalagi struktur yang tidak terlihat. Struktur tanah ada yang gersang dan ada yang lembab. Tanah di desa atau di kota juga demikian keadaannya. Barangkali ada tempat lain yang tidak gersang dan juga tidak lembab? Tentu akan lebih sulit untuk merekatkannya.”
“Masalahnya bukan itu. Masalahnya ada pada engkau sendiri. Berapa kadar tanah dan air dalam dirimu sendiri,” tegas kesunyian sambil menaruh embun di atas batu-batu.
Tak lama kemudian cahaya pagi menyibak kebisuan. Aku tersadarkan diri. Truk-truk pengangkut batu mulai berangkat ke kota. Entah kenapa lalu aku ingin sekali cepat bertemu dengan Ibu yang pernah mengajariku bagaimana merekatkan batu-batu.
menulis dan mewartakan
MENULIS DAN MEWARTAKAN
(Sebuah Pembelajaran untuk Calon Pewarta)
. Dalam rangka menghidupi tema tahunan “Seminaris Insan Pembelajar”, pada hari Sabtu, 19 September 2009, Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menyelenggarakan seminar dengan tema “Budaya Menulis dan Meneliti: Apa dan bagaimana Menulis Opini?” Kegiatan ini berawal dari keprihatinan bahwa di era informasi ini masih dijumpai banyak calon imam yang kemampuan menulisnya masih rendah. Lebih lagi, bila kemampuan tersebut dipandang dari sudut pewartaan.
Oleh karena itu, tidak berlebihan bila Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menangkap dan memperhatikan adanya kebutuhan meningkatkan kemampuan menulis para siswanya itu. Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, yaitu Bapak St. Kartono, guru SMA Kolese De Brito, Yogyakarta. Berikut pembelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan seminar tersebut.
“Mengapa menulis?”
Demikian St. Kartono membuka seminar. Pertanyaan ini menggugah para peserta untuk menyadari makna kegiatan menulis. Sekian jawaban dapat segera dilontarkan. Ada yang menulis karena ingin terkenal. Ingin mencari nafkah tambahan. Ingin berkembang intelektualnya. Ingin mendiskusikan saja. Ingin ini itu dan sebagainya. Lebih dari itu semua, menulis karena ingin mengubah dunia.
Menurut penulis dan juga dosen itu, menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Lain kata, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup”. Dalam kerangka pandang tugas manusia, dapat dikatakan “Menulis itu mewartakan”.
Menulis membutuhkan keberanian karena tulisan harus membawa pencerahan. Berani menyatakan pendapat meski mungkin berseberangan dengan arus utama. Inilah spirit yang membangun keberanian baru yang membawa pencerahan untuk masyarakat dan sesama.
Pintu masuk untuk menulis dan pencerahan adalah dengan membaca realitas dan teks dengan mata, telinga dan hati dengan kritis. Ide-ide segar dilatih dengan bertanya. “Mengapa begini? Mengapa begitu? Bagaimana seharusnya? Bagaimana kenyataannya? Solusi apa yang bisa ditawarkan? Inilah pintu menuju penemuan pengetahuan.
Memahami Konteks
Konteks adalah situasi atau lingkungan yang berhubungan dengan suatu kejadian atau kegiatan. Dalam menulis, konteks akan memberikan bobot makna dan pengaruh/efek sebuah tulisan. Tanpa konteks, sebuah tulisan akan menjadi kering, tidak membumi dan tidak mempunyai kekuatan mengubah. Oleh karena itu, memahami konteks adalah perlu. Konteks yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Pertama, konteks penulis. Siapa pun ia penulis (pewarta) perlu menyadari siapa dirinya, di mana ia berada, sebagai apa ia di sana, dan bagaimana ia melibatkan diri di sana. Dalam dinamika reflektif, ia perlu berusaha memahami dan mengenal konteks latar belakang diri sendiri dan orang lain, peristiwa, atau tempat yang dihadapinya. Misalnya, seorang guru atau imam yang menulis (mewartakan) perlu mencoba mengenal konteks topik yang akan ditulisnya: lingkungan, kebiasaan, budaya, latar ekonomi, nilai-nilai tradisi yang dihidupi di tempat tertentu. Berusaha mengerti keprihatinan, masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat yang menjadi perhatiannya. Dengan demikian, penulis dapat menentukan dengan tepat apa yang harus dan dapat dikembangkan mengenai sebuah masyakarat atau komunitas.
Kedua, konteks wacana nilai. Konteks untuk menyampaikan tulisan adalah wacana tentang nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan. Maksudnya agar pembaca menyadari nilai-nilai kemanusiaan yang ingin diperjuangkan. Nilai-nilai yang mestinya diperjuangkan seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggung jawab, kerja keras, kasih sayang, ugahari, ketaatan, kerja sama, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup.
Ketiga, konteks lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat yang mengusahakan suasana yang menghargai setiap orang, ditunjukkan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar, yang baik, dan yang indah. Idealnya, masyarakat sebagai bentuk kehidupan bersama merupakan tempat orang dipuji dan dihormati, tempat saling membantu, bekerja sama dengan semangat dan murah hati untuk menyatakan secara konkret melalui perkataan dan perbuatan idealisme bersama.
Menemukan Bentuk
Suatu gagasan akan menjadi konkret dan dapat dipahami bila diberi bentuk dan dikemas dengan baik. Gagasan sebuah tulisan akan jelas bila ada bentuknya misalnya berita, feature, opini, kolom, atau bentuk tulisan yang lain. Bentuk itu bermacam-macam tetapi roh yang menggerakkan sama, yaitu gagasan atau ide tulisan.
Kadang bentuk merupakan kekhasan seseorang. Seseorang bisa mewujudkan kekuatan pada kolom, dan yang lain pada opini, artikel, atau berita. Ini berarti seseorang dapat menemukan dan mengembangkan ciri khasnya untuk menjadikannya kekuatan yang mampu mengubah dunia melalui sebuah karya tulis.
Lebih daripada bentuk, cara memberi-bentuk (baca: membahasakan) sebuah gagasan dapat menjadi cermin jiwa seorang penulis. Ada ungkapan: bahasa adalah pikiran. Bahasa adalah jiwa. Adanya manusia dapat dipahami melalui bahasa. Hal ini dapat kita lihat pada contoh kasus berikut. Ketika ada kecelakan pesawat jatuh, muncul ungkapan yang berbeda-beda bergantung siapa yang mengungkapkan itu. Seseorang yang perhatiannya pada hal-hal yang tragis akan mengungkapkan, misalnya “Pesawat Jatuh, 15 Tewas Mengenaskan”. Akan tetapi, ada pula yang mengungkapkan, “Pesawat Jatuh, 2 Anak Selamat”. Dua ungkapan tersebut menunjukkan betapa rasa kemanusiaan berbeda satu dengan yang lain. Tentu, menjadi penulis akan berhadapan dengan belajar mencari bentuk yang sesuai dengan ketajaman kemanusiaannya. Begitu juga dengan bahasa gambar. Gambar yang ditampilkan sebagai bentuk ungkap suatu peristiwa mempunyai kadar kulitas daya-ungkap yang berbeda-beda.
Pencarian berbagai bentuk wacana amat penting untuk mengasah kepekaan rasa dan budi seorang penulis. Maka dapat dikatakan pula, menulis berarti mengasah kepekaan rasa dan kemanusiaan yang menjadi dasar pewartaan.
Mengubah
Menulis itu mencerahkan, menggugah, dan mengubah bila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh kekuatannya. Menulis dapat mengantar seseorang pada penemuan yang terdalam akan diri, sesama dan dunia semesta. Untuk itu, “Menulislah, sebelum engkau ditulis orang!”
-amdg-
(Sebuah Pembelajaran untuk Calon Pewarta)
. Dalam rangka menghidupi tema tahunan “Seminaris Insan Pembelajar”, pada hari Sabtu, 19 September 2009, Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menyelenggarakan seminar dengan tema “Budaya Menulis dan Meneliti: Apa dan bagaimana Menulis Opini?” Kegiatan ini berawal dari keprihatinan bahwa di era informasi ini masih dijumpai banyak calon imam yang kemampuan menulisnya masih rendah. Lebih lagi, bila kemampuan tersebut dipandang dari sudut pewartaan.
Oleh karena itu, tidak berlebihan bila Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menangkap dan memperhatikan adanya kebutuhan meningkatkan kemampuan menulis para siswanya itu. Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, yaitu Bapak St. Kartono, guru SMA Kolese De Brito, Yogyakarta. Berikut pembelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan seminar tersebut.
“Mengapa menulis?”
Demikian St. Kartono membuka seminar. Pertanyaan ini menggugah para peserta untuk menyadari makna kegiatan menulis. Sekian jawaban dapat segera dilontarkan. Ada yang menulis karena ingin terkenal. Ingin mencari nafkah tambahan. Ingin berkembang intelektualnya. Ingin mendiskusikan saja. Ingin ini itu dan sebagainya. Lebih dari itu semua, menulis karena ingin mengubah dunia.
Menurut penulis dan juga dosen itu, menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Lain kata, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup”. Dalam kerangka pandang tugas manusia, dapat dikatakan “Menulis itu mewartakan”.
Menulis membutuhkan keberanian karena tulisan harus membawa pencerahan. Berani menyatakan pendapat meski mungkin berseberangan dengan arus utama. Inilah spirit yang membangun keberanian baru yang membawa pencerahan untuk masyarakat dan sesama.
Pintu masuk untuk menulis dan pencerahan adalah dengan membaca realitas dan teks dengan mata, telinga dan hati dengan kritis. Ide-ide segar dilatih dengan bertanya. “Mengapa begini? Mengapa begitu? Bagaimana seharusnya? Bagaimana kenyataannya? Solusi apa yang bisa ditawarkan? Inilah pintu menuju penemuan pengetahuan.
Memahami Konteks
Konteks adalah situasi atau lingkungan yang berhubungan dengan suatu kejadian atau kegiatan. Dalam menulis, konteks akan memberikan bobot makna dan pengaruh/efek sebuah tulisan. Tanpa konteks, sebuah tulisan akan menjadi kering, tidak membumi dan tidak mempunyai kekuatan mengubah. Oleh karena itu, memahami konteks adalah perlu. Konteks yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Pertama, konteks penulis. Siapa pun ia penulis (pewarta) perlu menyadari siapa dirinya, di mana ia berada, sebagai apa ia di sana, dan bagaimana ia melibatkan diri di sana. Dalam dinamika reflektif, ia perlu berusaha memahami dan mengenal konteks latar belakang diri sendiri dan orang lain, peristiwa, atau tempat yang dihadapinya. Misalnya, seorang guru atau imam yang menulis (mewartakan) perlu mencoba mengenal konteks topik yang akan ditulisnya: lingkungan, kebiasaan, budaya, latar ekonomi, nilai-nilai tradisi yang dihidupi di tempat tertentu. Berusaha mengerti keprihatinan, masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat yang menjadi perhatiannya. Dengan demikian, penulis dapat menentukan dengan tepat apa yang harus dan dapat dikembangkan mengenai sebuah masyakarat atau komunitas.
Kedua, konteks wacana nilai. Konteks untuk menyampaikan tulisan adalah wacana tentang nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan. Maksudnya agar pembaca menyadari nilai-nilai kemanusiaan yang ingin diperjuangkan. Nilai-nilai yang mestinya diperjuangkan seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggung jawab, kerja keras, kasih sayang, ugahari, ketaatan, kerja sama, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup.
Ketiga, konteks lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat yang mengusahakan suasana yang menghargai setiap orang, ditunjukkan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar, yang baik, dan yang indah. Idealnya, masyarakat sebagai bentuk kehidupan bersama merupakan tempat orang dipuji dan dihormati, tempat saling membantu, bekerja sama dengan semangat dan murah hati untuk menyatakan secara konkret melalui perkataan dan perbuatan idealisme bersama.
Menemukan Bentuk
Suatu gagasan akan menjadi konkret dan dapat dipahami bila diberi bentuk dan dikemas dengan baik. Gagasan sebuah tulisan akan jelas bila ada bentuknya misalnya berita, feature, opini, kolom, atau bentuk tulisan yang lain. Bentuk itu bermacam-macam tetapi roh yang menggerakkan sama, yaitu gagasan atau ide tulisan.
Kadang bentuk merupakan kekhasan seseorang. Seseorang bisa mewujudkan kekuatan pada kolom, dan yang lain pada opini, artikel, atau berita. Ini berarti seseorang dapat menemukan dan mengembangkan ciri khasnya untuk menjadikannya kekuatan yang mampu mengubah dunia melalui sebuah karya tulis.
Lebih daripada bentuk, cara memberi-bentuk (baca: membahasakan) sebuah gagasan dapat menjadi cermin jiwa seorang penulis. Ada ungkapan: bahasa adalah pikiran. Bahasa adalah jiwa. Adanya manusia dapat dipahami melalui bahasa. Hal ini dapat kita lihat pada contoh kasus berikut. Ketika ada kecelakan pesawat jatuh, muncul ungkapan yang berbeda-beda bergantung siapa yang mengungkapkan itu. Seseorang yang perhatiannya pada hal-hal yang tragis akan mengungkapkan, misalnya “Pesawat Jatuh, 15 Tewas Mengenaskan”. Akan tetapi, ada pula yang mengungkapkan, “Pesawat Jatuh, 2 Anak Selamat”. Dua ungkapan tersebut menunjukkan betapa rasa kemanusiaan berbeda satu dengan yang lain. Tentu, menjadi penulis akan berhadapan dengan belajar mencari bentuk yang sesuai dengan ketajaman kemanusiaannya. Begitu juga dengan bahasa gambar. Gambar yang ditampilkan sebagai bentuk ungkap suatu peristiwa mempunyai kadar kulitas daya-ungkap yang berbeda-beda.
Pencarian berbagai bentuk wacana amat penting untuk mengasah kepekaan rasa dan budi seorang penulis. Maka dapat dikatakan pula, menulis berarti mengasah kepekaan rasa dan kemanusiaan yang menjadi dasar pewartaan.
Mengubah
Menulis itu mencerahkan, menggugah, dan mengubah bila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh kekuatannya. Menulis dapat mengantar seseorang pada penemuan yang terdalam akan diri, sesama dan dunia semesta. Untuk itu, “Menulislah, sebelum engkau ditulis orang!”
-amdg-
Label:
memberi bentuk,
memhami konteks,
mengubah
Selasa, 22 September 2009
puisi
Dongeng Cinta
untuk putriku
Suatu hari menjelang tidur,
seanak buta sejak lahir bertanya kepada ibunya:
“Ibu, apakah cinta itu?”
Sang Ibu tergagap, tapi kemudian makhlum.
Anakku,
Kau tahu apa yang sering ibu lakukan terhadapmu?
“Ya. Ibu selalu menggandeng tanganku,
menuntunku ke mana aku berjalan dalam kegamangan
menggapai dunia Nyata.”
Anakku,
Itulah cinta.
Selamat malam…
Januari 2008
Mata
untuk istriku
mata,
berpejamlah untukku …
aku akan menunjukkan
di mana kerawanan cinta dan
kecantikanmu.
Juli 2007
Mosaik Bulu Ayam
untuk sahabat
seorang perempuan cantik datang
kepada sahabatnya seniman bulu ayam,
ingin memiliki salah satu buah tangannya:
1) “Boleh aku pasang lukisan itu di rumahku?”
Perempuan itu mengamat-amati lukisan itu.
Kau tahu siapa dia?
“Itu perempuan cantik berambut bulu ayam piaraan!”
“Lalu…?”
Perempuan itu terdiam,
Hatinya bertanya kepada bayang-bayang
Wajahnya sendiri di balik bulan.
Sebulan kemudian,
perempuan itu kembali dengan membawa setangkai makna
2) “Aku tahu artinya. Perempuan itu selalu tertekan!”
“Lalu…?”
Perempuan itu tersenyum penasaran
Lalu terdiam, memandang bayang-bayang
wajahnya sendiri di balik bulan.
Sang seniman melepas senyum, mengembalikan penasaran.
Setahun kemudian,
3) “Apa sebenarnya makna lukisan itu?”
Perempuan itu menunggu jawab
“Itu cinta saya ketika menatap kau pertama.
Akankah kau minta?”
Juli 2007
untuk putriku
Suatu hari menjelang tidur,
seanak buta sejak lahir bertanya kepada ibunya:
“Ibu, apakah cinta itu?”
Sang Ibu tergagap, tapi kemudian makhlum.
Anakku,
Kau tahu apa yang sering ibu lakukan terhadapmu?
“Ya. Ibu selalu menggandeng tanganku,
menuntunku ke mana aku berjalan dalam kegamangan
menggapai dunia Nyata.”
Anakku,
Itulah cinta.
Selamat malam…
Januari 2008
Mata
untuk istriku
mata,
berpejamlah untukku …
aku akan menunjukkan
di mana kerawanan cinta dan
kecantikanmu.
Juli 2007
Mosaik Bulu Ayam
untuk sahabat
seorang perempuan cantik datang
kepada sahabatnya seniman bulu ayam,
ingin memiliki salah satu buah tangannya:
1) “Boleh aku pasang lukisan itu di rumahku?”
Perempuan itu mengamat-amati lukisan itu.
Kau tahu siapa dia?
“Itu perempuan cantik berambut bulu ayam piaraan!”
“Lalu…?”
Perempuan itu terdiam,
Hatinya bertanya kepada bayang-bayang
Wajahnya sendiri di balik bulan.
Sebulan kemudian,
perempuan itu kembali dengan membawa setangkai makna
2) “Aku tahu artinya. Perempuan itu selalu tertekan!”
“Lalu…?”
Perempuan itu tersenyum penasaran
Lalu terdiam, memandang bayang-bayang
wajahnya sendiri di balik bulan.
Sang seniman melepas senyum, mengembalikan penasaran.
Setahun kemudian,
3) “Apa sebenarnya makna lukisan itu?”
Perempuan itu menunggu jawab
“Itu cinta saya ketika menatap kau pertama.
Akankah kau minta?”
Juli 2007
pelajaran puisi
1. bertanya satu
hii....
anakku,
mungkin kita tahu
puisi itu apa
tapi untuk mengatakan
apa itu puisi itu
su...lit!
ah...
anakku,
mungkin kita tahu
keindahan itu apa
tapi untuk mengungkapkan
apa itu keindahan
tidak mudah
2. mencari angan
sttt...
anakku,
mari kita pergi ke taman angan
kita siapkan lembaran untuk
setitik embun impian
kita relakan sejenak
pikiran,
untuk mata menangkap makna warna
kita relakan sejenak
pikiran,
untuk telinga bergetaran menangkap suara
kita relakan sejenak
pikiran,
untuk akal yang nakal
kita relakan pikiran,
untuk tangan menganyam angan
kita relakan pikiran,
untuk angan yang sedang ingin bertemu makna
anakku,
demikianlah hendaknya kita
mencari angan
hii....
anakku,
mungkin kita tahu
puisi itu apa
tapi untuk mengatakan
apa itu puisi itu
su...lit!
ah...
anakku,
mungkin kita tahu
keindahan itu apa
tapi untuk mengungkapkan
apa itu keindahan
tidak mudah
2. mencari angan
sttt...
anakku,
mari kita pergi ke taman angan
kita siapkan lembaran untuk
setitik embun impian
kita relakan sejenak
pikiran,
untuk mata menangkap makna warna
kita relakan sejenak
pikiran,
untuk telinga bergetaran menangkap suara
kita relakan sejenak
pikiran,
untuk akal yang nakal
kita relakan pikiran,
untuk tangan menganyam angan
kita relakan pikiran,
untuk angan yang sedang ingin bertemu makna
anakku,
demikianlah hendaknya kita
mencari angan
Langganan:
Postingan (Atom)
