Senin, 28 September 2009

cerpen

Atas Nama Batu

Menuju puncak gunung Merapi, ratusan truk antri membentuk dua barisan, berjalan berlawanan, sesekali berhenti saat berpapasan. Aku berada di barisan yang menuju padang batu bersama para kuli, sopir dan pelacur jalanan. Aku merasa asing berada di antara mereka.

Ketika truk yang hari itu kutumpangi berjalan tersendat-sendat mendekati padang batu, seorang anak berlari sambil memanggil-manggil ibunya ingin menceritakan tentang apa yang dilihatnya.
“Ibu, apa yang sedang terjadi? Batu-batu meloncat-loncat kegirangan dari suatu tempat ke tempat lain. Dari puncak gunung turun ke lembah, ke hamparan sawah petani. Lalu berpindah tempat dari desa ke desa, dari desa ke kota dan dari kota ke kota. Berikutnya dari rumah penduduk ke kantor-kantor, ke sekolah-sekolah, ke penjara-penjara, ke gedung-gedung bertingkat dan akhirnya berkumpul di PT DPR RI Jakarta. Kemudian menggelinding bandel ke jalan-jalan desa dan kota. Bergerak serba cepat bersama angin panas yang tak tentu arah mengenai wajah, kepala, dada, perut, kemaluan hingga yang terkena itu memar, bengkak, benjut, sesak, mendongkol, luka menganga dan robek. Ibu, aku ingin mengambil dan memeluk batu itu tanpa memisahkannya dari gunung, tanah dan sungai. Aku ingin mencurahkan dan mengabdikan diriku pada batu tanpa menggoresnya. Aku ingin membangun rumah batu tanpa memukul dan menghancurkannya. Aku ingin memanjat dinding batu tanpa menginjak-injak. Aku ingin memohon kelembutan batu tanpa menyakitinya. Aku ingin tapi ….”

“Buat apa? Bersahabat dengan batu, memohon kepada batu. Bukankah batu itu bisu. Engkau memohon kelembutannya tidaklah harus memintanya supaya memberi nasihat dengan kata-kata dari serat-serat yang tercetak di permukaannya. Engkau memetik cinta tidaklah harus dengan kata-kata. Engkau mendengar kepastian jawabannya tidaklah harus lewat kata-kata,” kata Ibunya menenangkan.

“Tapi Ibu…, batu-batu itu makin cepat berpindah tempat, bergeser saling menggantikan kedudukan. Melesat tiba-tiba dari satu pulau ke pulau yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dari satu benua ke benua yang lain menyeberangi samodra luas?”

Ibu itu terdiam. Dalam diamnya hatinya juga berkata. “Ya. Ada apa sebenarnya? Para orang tua murid bersimpuh di depan kuburan anaknya, menangis terisak-isak mengenang anaknya yang telah menjadi batu karena batu. Di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah batu-batu beterbangan, meloncat-loncat kebingungan, melayang-layang seperti mabuk kebanyakan pil koplo, frustrasi kebanyakan permasalahan yang tak kunjung selesai. Apa yang sedang terjadi?”

Anak itu lalu tampak sedih. Butiran batu-batu kecil berkilauan keperakan keluar dari matanya.Wajah, kepala, dada, perut, dan kemaluannya kaku membatu. Dalam kekakuannya terdengar lirih anak itu memohon kelembutan kepada batu. Kini ia terbujur kaku di padang batu. Batu-batu nakal serba kampungan menganggu dan mengejek kekakuannya. Ia ingin marah tapi ia sudah tak bertenaga. Tangan dan kakinya kaku. Ia benci pada dirinya sendiri.

“Mengapa engkau tidak sekuat batu. Meski diinjak, digiling, dipukul, dihancurkan tetap keras dan bisu? Ya, engkau memang bukan batu. Engkau hanya seperti batu, belum menjadi batu. Tak selamanya engkau keras seperti batu. Alam ini sudah mengatur kapan engkau harus keras membatu dan kapan engkau harus lembut seperti debu. Kekerasan batu masih bisa dihancurkan, tapi bagaimana mengusap atau menghempaskan debu yang terselip di mata? Nah, … ini soal manusia, termasuk kau juga. Engkau tidaklah harus menjadi batu atau debu. Engkau tidaklah harus menghancurkan batu untuk menjadikannya debu,“ kata Ibunya memberi pengertian.

Aku menjadi serba salah. Sekurang-kurangnya sekarang aku sedang dihadapkan pada kesulitan tentang bagaimana agar aku tetap bisa hidup tegar dan kuat. Selama ini aku hanya bisa menerima dan memilih, memilih dan menerima begitu saja. Diriku telah tercerabut dari tanah. Bagaimana aku bisa tumbuh, bersemi, dan berbunga?

Sementara para orang tua berkali-kali memandang diriku permata yang tak boleh jatuh di tanah yang seharusnya tempat aku berpijak. Para guru berkali-kali menjejali diriku dengan pengetahuan bahwa batu itu keras dan oleh karena itu harus dihancurkan. Para tukang batu memberiku pelajaran memfungsikan batu dengan cara memukul dan menghancurkannya untuk membangun rumah permanen. Para pemahat memberiku pelajaran seni dengan cara memukul-mukul ringan sambil tangan yang satunya menusuk-nusukkan pahat menurut seleranya sendiri. Para pendidik memberiku pelajaran moral agar aku tidak melemparkan batu pada sesamanya. Para politikus menanamkan persepsi kepadaku bahwa negara dan bangsa bukan bangunan batu-batu anarki.

Rupanya batu telah menjadi pribadi batu dengan berbagai teknik peleburan dan pencetakan gaya baru.

Di padang batu anganku bergulir di antara batu-batu. Aku ingin mencari guritan-guritan yang telah kabur ditelan jaman, meringkuk dalam cahaya gelap malam, menunggu datangnya kelembutan jiwa sang batu.

Dalam kegelapan pekat itu, aku merasa getaran hidup mengalir ke dalam tubuhku mengatasi kebekuan. Tak jauh dari tempatku terpuruk, jiwaku melihat batu-batu saling berpelukan mesra, saling menindih, saling menukarkan kehangatan menurut bahasa citra mereka. Kekuatan dahsyat yang selalu menjadi tanda tanya peradaban sepanjang jaman sejak awal kejadian hingga kini dan akhir jaman. Batu dengan batu bercengkerama menikmati kelembutan. Binatang-binatang kecil bertalu memulai suatu pentas. Di kejauhan lampu-lampu kecil berkedip-kedip sempurna seakan menyampaikan pesan ilahi, menghiasi pelataran panggung kehidupan. Pelan-pelan rembulan menampakan diri di layar lebar tersenyum tenang meneguhkan kesibukan kawan-kawannya. Angin mengajak dedaunan bermain musik malam. Paduan suara pun lembut mengalun. Sapu Jagad membuka atraksi dengan menyemburkan api ke angkasa berkali-kali. Para batu menari telajang bulat. Gerakan dan musiknya selaras mengikuti irama alam. Pujian kelembutan pun bergema ke angkasa. Dan rembulan tersenyum menyaksikan bintang dan batu meneguk kepuasan malam nan indah dan dahsyat.

Baru saja acara pembukaan pentas selesai, angin semilir menerpa telingaku membisikkan kabar memprihatinkan. “Malam ini di ibu kota terjadi kekerasan. Batu pelindung kemuliaan dihancurkan oleh batu keji. Pengecut tak dikenal. Batu-batu yang menjadi podasi PT DPR dan istana presiden terancam runtuh oleh batu-batu yang sulit dibedakan mana yang sebenarnya layak dan mana yang sebenarnya rapuh. Batu-batu yang datang dari daerah berhamburan ke jalan raya membuat kemacetan.”

Tiba-tiba, suasana mengerut sunyi. Alam membisu. Angin basah mengusap wajah batu-batu alam.

Aku bimbang menentukan pilihan antara kenyataan dan angan. Di gunung aku mengangumi keteguhannya, di kota, aku memberontaki kekerasan bisunya. “Ini jelas soal manusia, bukan soal batu. Kekeroposan batu tampak jelas. Sedang keroposnya manusia tak bisa diraba dan diterka. Di antara batu-batu, mana yang keras dan mana yang kuat dapat dipilah. Sedangkan di antara manusia, mana yang keras dan mana yang teguh sulit dipisah. Dengan kekuatannya, batu dapat menjadi gedung-gedung tinggi dan candi, jalan raya dan gereja. Manusia menjadi apa dengan kekuatannya? Mana yang sesungguhnya ada? Mana yang sebenarnya berjasa. Batu atau manusia?” tanya pikiranku.

Barangkali benar bahwa zaman ini ditandai dengan pengunaan alat-alat rumah tangga dan berburu dari batu seperti beribu-ribu tahun yang lalu. Batu yang dikerjakan secara kasar dan tanpa diasah. Tempat tinggalnya tidak menetap, pekerjaannya berburu dan meramu.

“Kawan …. Mau dikemanakan zaman ini? Bukankah mereka jauh lebih maju? Bukankah mereka sudah demikian canggih menghadapi segala perihal hidup? Bukankah mereka berpendidikan hebat-hebat? Dan bukankah mereka tahu segala hal tentang hidup dan bagaimana hidup untuk masa yang panjang? Mereka bukan bangsa batu. Mereka dapat memilih: peradaban atau batu, batu atau peradaban, batu peradaban atau peradaban batu? Tapi aku tidak. Aku tak biasa memilih apalagi hal-hal yang sebenarnya slogan kosong itu. Bagaimana mungkin aku yang kosong dapat memilih yang kosong? Aku sudah tercetak sedemikian maju untuk selalu menjaga keindahan permataku di antara makhluk-makhluk lain di sekitarku. Tapi aku heran, mengapa batu bersama dengan batu yang lain bisa berpadu dalam perubahan waktu?”

“Bukankah engkau yang membuatnya begitu? Bukankah engkau yang merekatkan batu-batu itu menjadi gedung-gedung, jalan-jalan, dan candi beribu-ribu?” kata aku yang lain.

“Aku? Bukan. Aku hanya menatanya dengan perekat tanah dan air sungai.”

“Kalau batu-batu bisa engkau rekatkan dengan tanah dan air, tidakkah engkau juga bisa merekatkan engkau sendiri dengan engkau yang lain dengan perekat?”

“Itulah masalahnya. Untuk batu jelas. Kompisi tanah dan air seimbang, beres. Tapi terlalu banyak tanah atau air, susunan batu bisa longsor. Selain kompisi, struktur juga menentukan. Apalagi struktur yang tidak terlihat. Struktur tanah ada yang gersang dan ada yang lembab. Tanah di desa atau di kota juga demikian keadaannya. Barangkali ada tempat lain yang tidak gersang dan juga tidak lembab? Tentu akan lebih sulit untuk merekatkannya.”

“Masalahnya bukan itu. Masalahnya ada pada engkau sendiri. Berapa kadar tanah dan air dalam dirimu sendiri,” tegas kesunyian sambil menaruh embun di atas batu-batu.

Tak lama kemudian cahaya pagi menyibak kebisuan. Aku tersadarkan diri. Truk-truk pengangkut batu mulai berangkat ke kota. Entah kenapa lalu aku ingin sekali cepat bertemu dengan Ibu yang pernah mengajariku bagaimana merekatkan batu-batu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar