Selasa, 29 September 2009

pembelajaran analisis sastra

PEMBELAJARAN
MENGULAS KARYA SASTRA UNTUK SMA


Menganalisis, mengulas, menafsir, dan menilai karya sastra berarti menjadikan suatu karya sastra sebagai orientasi pembahasan, pengulasan, penafsiran, ataupun penilaian. Pada hakikatnya kegiatan mengulas karya sastra berdasar pada keseluruhan karya sastra yang mencakup alam kehidupan, pembaca, penulis, dan karya sastra. Berdasarkan pandangan itu, ada empat pendekatan dalam mengulas sastra, yaitu (1) pendekatan objektif, (2) pendekatan mimetik, (3) pendekatan ekspresif, (4) pendekatan pragmatik (Abrams dalam Djoko Pradopo, 1995: 94), dan satu pendekatan lain yang lebih kompleks, yaitu (5) pendekatan interdisipliner.

1. Pendekatan objektif
Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai sesuatu yang mandiri, otonom, bebas, bebas dari pengarang, pembaca dan dunia sekelilingnya. Pendekatan ini cenderung menerangkan karya sastra atas kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling hubung unsur-unsur yang membentuk karya sastra. Telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif sering dikenal dengan telaah struktural, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan tema, peristiwa, tokoh, alur, setting, sudut pandangan, diksi yang terdapat dalam karya sastra.

Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Orang-orang Proyek
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2007
Judul ulasan : Orang-orang Proyek dalam Lingkar Hermeneutik

Ulasan ini dibuka dengan penjelasan tentang kerangka teoretik pendektan objektif dari beberapa ahli sastra seperti Abram, Teew, Hardiman, dan Ricour. Kemudian penulis mulai mengulas novel mulai dari makna judul, kemudian tema, tokoh, alur, nilai-nilai, makna novel secara keseluruhan. Masing-masing bagian novel itu diulas menggunakan rujukan baik mengenai teorinya maupun data sebagai bukti dari teks.

Contoh judul ulasan lain:
Hujan Menulis Ayam: Teks Narasi Sutardji Colsum Bachcri
Keunikan Bahasa Pengucapan Ayu Utami dalam Novel Saman

2. Pendekatan mimetik
Pedekatan ini memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah kebenaran representasi objek-objke yang digambarkan ataupun yang hendak digambarkan.
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu. Perhatian penelaah adalah pada “the rela¬tionship between the work of art and the universe that it pretends to produce (hubungan antara karya seni dan realitas yang melatarbelakangi kemunculannya).
Dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan di atas, penelaah pertama memahami suatu karya atas dasar teks tertulis; kedua dia memandang teks tertulis itu sebagai pengungkapan pengalaman, perasaan, imajinasi, persepsi, sikap dan sebagainya; dan kedua dia menghubungkannya dengan realitas yang terjadi di masyarakatnya.

Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul : Sagra (kumpulan cerpen)
Pengarang : Oka Rukmini
Penerbit :
Judul Ulasan : Sisi Gelap Pulau Bali dalam Sagra
Kerangka ulasan:
 Kondisi Bali selama ini: ketenaran, konflik, persoalan
 Novel-novel lain tentang Bali
 Tafsir keliru tenatang kasta dengan berbagai rujukan
 Potret buram pulau Bali dalam Sagra
 Sikap narator terhadap keberadaan Wangsa
 Penutup

Contoh judul ulasan lain:
Sampah Bulan Desember, Jakarta Dulu, Kini, dan Esok
Saman: Cerminan Kesetaraan Gender

3. Pendekatan ekspresif
Pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan, sebagai hasil imajinasi pengarang, pikiran-pikiran dan perasaannya. Pendekatan ini cenderung menimbang karya sastra dengan keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokannya dengan visi atau keadaan pikiran dan kejiwaan pengarang.
Telaah ini didasarkan pada teori ekspresif yang memandang suatu karya seni yang secara esensial sebagai dunia internal (pengarang) yang terungkap sehingga menjadi dunia eksternal (berupa karya seni); perwujudannya melalui proses kreatif, dengan titik tolak dorongan perasaan pengarang; dan hasilnya adalah kombinasi antara persepsi, pikiran dan perasaan pengarangnya.
Sumber utama dan pokok masalah suatu novel, misalnya, adalah sifat-sifat dan tindakan-tindakan yang berasal dari pemikiran pengarangnya.
Di sisi lain Rohrberger dan Woods (1971:8) memandang pendekatan ekspresif ini sebagai pendekatan biografis. Pendekatan biografis menyaran pada perlunya suatu apresiasi terhadap gagasan-gagasan dan kepribadian pengarang untuk memahami obyek literer. Atas dasar pendekatan ini, karya seni dipandang sebagai refleksi kepribadian pengarang, yang atas dasar pengalaman estetis pembaca dapat menangkap kesadaran pengarangnya; dan yang setidak-tidaknya.sebagian respon pembaca mengarah kepada kepribadian pengarangnya. Untuk itu, dengan pendekatan ekspresif penelaah hendaknya mempelajari pengetahuan tentang pribadi pengarang guna memahami karya seninya).
Telaah dengan pendekatan ekspresif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, imajinasi, spontatanitasnya dan sebagainya

Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Para Priayi
Pengarang : Umar Kayam
Penerbit : Grafiti Press, Jakarta
Judul Ulasan : Memaknai Ekapresi Umar Kayam dalam Novel Para Priayi
1) Pengantar; hubungan sastra dengan pengarang khususnya Kayam
2) Pendekatan ekspresif
3) Memahami pengucapan Umar Kayam dalam PP
i. Ringkasan novel
ii. Konflik sistem nilai dan sistem kebudayaan nasional
iii. Pembaharuan estetik
4) Penutup

Contoh judul ulasan lain:
Pergulatan Spiritual “Raja Penyair Pujangga Baru” Amir Hamzah

4. Pendekatan pragmatik
Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca (keindahan, pendidikan, dan lain-lain). Pendekatan ini cenderung menimbang nilai berdasarkan keberhasilan tujuan pengarang bagi pembaca.

Contoh penerapan pendekatan ini:
Judul Novel : Belenggu
Pengarang : Armjin Pane
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Judul Ulasan : Belenggu: Refleksi Tentang Kematian Keluarga

Ulasan ini dibuka dengan pertanyaan dan pendapat tentang fenomena keluarga modern. Pembahasan kemudian masuk kepada isi novel Belenggu yang menceritakan konflik-konflik yang dialami oleh sebuah keluarga modern, mulai dari hal-hal kecil seperti kesibukan masing-masing anggota keluarga sampai hal-hal yang mendasar mengenai kehidupan rumah tangga, yang makin memuncak dan pada akhirnya menukik pada perceraian keluarga. Ulasan ini ditutup dengan makna keluarga dipandang dari sudut seni khususnya sastra.

Contoh judul ulasan lain:
Pulang Karya Toha Mochtar: Membangun Mentalitas Manusia Indonesia Baru

5. Pendekatan interdisipliner
Pendekatan interdisipliner dalam studi sastra mengacu kepada pendekatan yang melibatkan sejumlah disiplin sosial/ humaniora lainnya. Dalam studi sastra dengan pendekatan interdisipliner, kita mungkin memanfaatkan kajian sejarah, sosiologi, pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya dalam yang seluas-luasnya. Pendekatan mikro-makro merupakan salah satu pendekatan yang dimanfaatkan dalam studi ini.

Contoh penerapan pendekatan ini:
Langkah-langkah ini pernah dilakukan Fatchul Mu’in (2001) ketika dia menelaah novel Native Son karya Richard Wright dalam tesisnya yang berjudul “Richard Wright’s Native Son: A Study of White Domination and Its Effects on African Americans”. Katanya :”In implementing those approaches, the writer of this thesis comprehends Richard Wright’s Native Son on the basis of its written text, then regards it as Richard Wright’s experience, feeling, imagination, perceptions, etc. After that the writer relates it (the novel) to the universe or the American life as the background of the production of the novel. (dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan itu, penulis tesis ini memahami Native Son karya Richard Wright atas dasar teks tertulisnya, kemudian memandangnya sebagai ungkapan pengarang novel itu tentang pengamalannya, perasaannya, imajinasinya dan sebagainya. Setelah itu, dia menghubungkan novel itu dengan realitas atau kehidupan Amerika sebagai latar belakang penulisan novel itu sendiri)”.

Dilihat dari sudut pandang penciptaan atau kepengarangan, dapat dikatakan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari sang pengarangnya. Dalam kaitan ini, dalam proses kepengarangan, sang pengarang itu tentu tidak asal mengarang atau menulis karya sastra; dia tentu terlebih dahulu melakukan observasi dan lalu melakukan komtemplasi (perenungan) atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Melalui proses observasi dan komtemplasi, dia melakukan imajinasi dakam rangka untuk menciptakan karya sastra (berkreasi). Singkat kata, melalui proses-proses itu maka terwujudlah suatu karya sastra.
Karena karya sastra banyak berkait dengan persoalan-persoalan kemanusia, maka untuk dapat memahaminya kita perlu mengkaitkannya dengan bidang-bidang atau disiplin-disiplin sosial/ humaniora lainnya. Pemahaman dengan cara yang demikian mengacu kepada pemahaman karya sastra secara interdisipliner.
Ketika melakukan telaah sastra untuk tesis S-2, Fatchul Mu’in (2001) mengetengahkan : “In American Studies Study, a literary work is regarded as a mental evidence to explain American culture as a whole; a literary work is regarded as a microcosm which is used to explain a microcosm. Richard Wright’s Native Son is a literary work portraying a black man’s life. Thus, Bigger Thomas as a black man in the novel is a representative of the black people; whereas the Dalton family is a representation of the white people (dalam studi pengkajian Amerika, suatu karya sastra dipandang sebagai bukti mental (mental evidence) untuk menjelaskan kebudayaan Amerika secara luas (yang menyangkut keseluruhan hubungan dan akibat hubungan antara orang-orang kulit putih dan kulit hitam); suatu karya sastra dipandang sebagai dunia kecil (mikrokosmos) yang dimanfaatkan untuk menjelaskan dunia besar (makrokosmos). Novel Native Son karya Richard Wright yang menggambarkan kehidupan seorang kulit hitam. Jadi, Bigger Thomas sebagai seorang kulit hitam dalam novel itu merupakan perwujudan dari orang-orang Amerika kulit hitam; sedangkan keluarga Dalton merupakan perwujudan orang-orang Amerika kulit putih)”.

Contoh ulasan lain:
Dimensi Psikologis “Robohnya Surau Kami” karya A.Navis
Ziarah : Refleksi Teologis Kematian Manusia

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1993 . A Glossary of Literary Terms. Fort Worth : Harcourt Brace Press.
Fatchul Mu’in. 2001. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. (Thesis S-2). Yogyakarta : Gadjah Mada University
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Lomba Mengulas Karya Sastra 2007.
Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.
McDowell, Tremaine. 1948. American Studies. Menneapolis: The Universitas of Menneapolis.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wright, Richard. 1966. Native Son. New York : Harper & Row Publishers, Inc.

2 komentar:

  1. trmakasih.. ini dapat membantu tugas saya. tapi yang ingin saya tanyakan, apakah suatu novel dapat di analisis dengan semua pendekatan tersebut? atau hanya salah satu pendekatan saja?trims..

    BalasHapus
  2. paling menarik, membatasi pada satu atau dua pendekatan saja, biar tidak pusing kepala, yang penting dari membaca novel itu kita menemukan makna yang mengejutkan bagi diri kita sendiri minimal dan bagi masyarakat. trima kasih komentarnya

    BalasHapus