Rabu, 02 Juni 2010

BELENGGU: REFLEKSI TENTANG KEMATIAN KELUARGA

“Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau, jangan enggan menempuh angin ribut, taufan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru”
(Belenggu, hlm. 5)

ΔΔΔ
Di tengah berbagai permasalahan yang mengguncang, masihkah keluarga sanggup berlayar mengarungi kehidupan? Menurut Ariel Heryanto (1994), “Sebagai kontruksi sosial, keluarga merupakan lembaga sosial yang punya masa awal kebangkitannya, masa kejayaan, dan keruntuhannya”. Sejarah keluarga berjalan secara linier sehingga kematiannya merupakan keniscayaan?
Banyak orang mungkin sudah menyadari bahwa keluarga sebagai pranata sosial telah dan sedang mengalami goncangan. Akan tetapi, apakah dengan demikian orang percaya bahwa keluarga akan menemui “ajalnya”? Apakah setiap orang mempunyai imajinasi yang sama dengan Ariel, bahwa sejarah keluarga berjalan secara linear sehingga kematiannya akan merupakan suatu keniscayaan?
Irwan Abdullah (2003: 27), dalam tulisannya yang berjudul “Modernitas dan Titik Balik Keluarga”, mengatakan

“Kematian merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan kematian itu menakutkan bagi sebagian orang. Bagi sebagian yang lain, kematian itu merupakan akhir dari suatu proses sosial yang sangat wajar, yang menjadi keharusan sejarah. Kematian apa yang disebut sebagai “keluarga” merupakan proses sosial yang lain, yang bukan sekadar menunjukkan suatu titik akhir dari suatu peradaban yang diagung-agungkan, tetapi lebih sebagai kegagalan sejarah dalam memelihara institusi yang hampir paling penting dalam penciptaan sistem sosial dan nilai yang agung bagi suatu wilayah kebudayaan.”


Armjin Pane (1940), dalam novelnya yang berjudul Belenggu, tampaknya juga percaya bahwa sejarah bergerak secara linier. Namun, di dalam gerak itu senantiasa ada sesuatu yang tetap dan tak berubah, yakni apa yang agaknya ia pandang sebagai keyakinan akan “semangat”. “Semangat” yang membebaskan dari segala angin ribut dan taufan badai yang mengguncang, dari segala belenggu yang menghimpit dan menjepit manusia.

“Memang benar demikian, yaitu kalau kita biarkan kita dibelenggu, tetapi kalau kita pada mulanya benar sudah memasang segala tenaga kita, kalau kita terus juga bersikeras hendak melepaskan belenggu itu, kalau kita pakai segala alat yang mungkin diperoleh pasti kita akan terlepas juga dari ikatan belenggu itu.
Lagi pula angan-angan tidak jauh dari cita-cita, angan-angan dapat menjadi cita-cita yang menggembirakan hati dan menghidupkan jiwa, mengangkat diri melepaskan segala belenggu yang mengikat semangat yang muda, cuma cita-cita yang baru saja dapat membawa kehidupan baru.” Dia diam sejurus, lalu katanya pula, seolah-olah berkata sama sendirinya: “Angan-angan yang hidup menjadi cita-cita dan cita-cita menghidupkan manusia, membuat dia bernyawa dan bergerak”
(hlm. 107-108).



Mengambil setting kekacauan kehidupan keluarga muda yang telah mengatasi masa pancaroba dari masyarakat yang dikungkung adat kepada masyarakat modern, Armjin Pane agaknya hendak mengatakan bahwa kematian keluarga bukanlah titik penghabisan dari suatu peradaban, tetapi lebih sebagai kegagalan sejarah dalam memelihara institusi . Sebab, perahu tumpangan itu masih (harus) terus berjalan menuju dunia baru, sebuah dunia yang dicita-citakan.

ΔΔΔ
Belenggu Armjin Pane bolehlah dibaca sebagai suatu episode kegagalan manusia dalam ekspedisi mengarungi samudra kehidupan. Kisahnya tentang sepasang suami-istri, Tono dan Tini. Episode itu dimulai ketika keluarga itu menjumpai situasi ketidakharmonisan dalam rumah tangganya.
Karena kesibukannya sebagai dokter, Tono (Sukartono) hampir tak mempunyai waktu untuk memberi perhatian kepada Tini (Sumartini), istrinya. Tini yang merasa tidak mendapatkan perhatian dari Tono, mencari kesibukan di luar rumah (hlm. 17). Akibat kesibukan mereka, Tono dan Tini jarang mempunyai waktu bersama-sama. Akibat selanjutnya mereka tidak dapat mengkomunikasikan pikirannya masing-masing (hlm.18). Masalah-masalah yang timbul lebih banyak dipikirkan sendiri-sendiri sehingga tak pelak menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada pertengkaran yang tak terselesaikan.

Kartono heran melihat istrinya masih bangun, duduk membaca di ruang tengah.
“Engkau masih bangun, Tini?”
Tini tiada menjawab.
“Bagaimana vergadering tadi?”
Tiba-tiba Tini berdiri, kerosi jatuh ke belakang, bukunya dicampakkannya diatas meja.
“Tuan dokter pergi ke patient……”
Hati Sukartono terkejut, adakah diketahuinya yang tadi? ……….lupa di istrinya.
Sukartono diam.
“Ya, tutuplah mulut. Biar isterimu tertunggu-tunggu. Tidakkah dapat ditunda satu patient, buat menjemput isteri?”
Dada Sukartono merasa lega. Bukan karena ketahuan karena dijemput malah.
“Bukan kau bilang, tiada usah dijemput?”
“Siapa bilang? Bukan kau yang mengatakan hendak menjemput aku?”
Tini memandangnya dengan marah.
“Bukan kau diam saja?” kata dokter Sukartono akan mempertahankan diri.
“Perlulah lagi aku buka mulut? Mestikah aku menyembah-nyembah lagi? Mesti berlutut dimukamu?
Patient, patient, selamanya patient, isterinya terlantar, tidak malu engkau isterimu sendirian pulang?”
Tini masuk ke kamar tidur, pintu ditutupnya keras-keras, kedengaran dikunci dari dalam, sebentar lagi kedengaran badan terempas dalam tempat tidur.
Sukartono tertunduk. Malam itu dia tidur di sofa.
(hlm. 34-35).


Demikianlah keluarga itu mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan kekuatan akibat mobilitas anggota keluarga dan siklus keluarga yang tidak mempertemukan yang menyebabkan usaha-usaha pemeliharaan keluarga tidak dapat berlangsung terus-menerus. Pada saat anggota keluarga mulai terlibat di luar batas lingkungan keluarga secara permanen atau temporer, unsur-unsur yang menjadi penyusun dan pengikat keluarga tidak dapat dilestarikan dengan mudah. Kepentingan-kepentingan di dalam keluarga telah dikalahkan oleh kepentingan pekerjaan yang ada di luar rumah dan menarik anggota-anggota keluarga untuk tidak hanya melakukan kegiatan di luar rumah tetapi juga hidup di luar rumah yang pokok yang dengan cara yang sama telah melakukan perlawanan terhadap prinsip-prinsip kebersamaan dan pelestarian nilai. Otoritas keluarga pun menjadi melemah .
Dalam proses yang sama, keluarga pun tidak bisa dijadikan acuan sebagai sebuah tempat yang sejuk yang mampu memecahkan dengan baik setiap gejolak yang dialami oleh anggota-anggotanya, sebagai tempat setiap anggota membenamkan kegelisahan sosial, dan sebagai sosok bijak yang dapat menerima segala kegalauan dan persoalan yang kemudian menenteramkan. Keluarga juga tidak dapat menjadi tempat yang damai yang memberikan pemecahan-pemecahan yang sejuk pada saat anggota-anggotanya mengalami berbagai tekanan dan persoalan. Keluarga juga tidak lagi menjadi tempat di mana setiap anggotanya memperoleh kekuatan baru untuk menghadapi hidup di luar rumah yang didefinisikan sebagai hidup yang nyata, keras dan penuh perjuangan. Keluarga menjadi rapuh .
Sementara itu, perbedaan pandangan dari pasangan tentang peran-peran dalam keluarga tidak menemukan sinerginya. Tono berpandangan bahwa tugas seorang istri adalah mengurus anak, suami, dan segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga (hlm. 16). Sebaliknya Tini, menginginkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Bahkan ia menganggap pria sebagai saingan (dengan alasan demi keadilan) sekalipun terhadap suaminya .
Dalam setting keluarga semacam itu, rumah menjadi tempat di mana orang-orang lelah berkumpul, tempat orang-orang kecewa atau menghadapi persoalan sehari-hari bertemu sehingga tidak ada yang dapat dijadikan imam yang mampu mengarahkan dan membimbing pengikut-pengikutnya yang ada dalam keluarga itu .
Dalam kondisi demikian, Armjin Pane mencoba mengutus tokohnya: Ny. Rusdio untuk mengingatkan Tini (hlm. 53) dan Mangunsucipto untuk mengingatkan Tono (hlm. 128).
Kehadiran kedua tokoh ini menarik karena di saat Tono dan Tini mengalami goncangan, masih ada orang lain yang memperhatikan meskipun tidak membawa perubahan. Sikap Tono dan Tini yang ingin menentukan nasibnya sendiri dan yang tak ingin dipengaruhi dari luar, lebih-lebih pengaruh dari pandangan yang kolot tentang kebebasan manusia, sama sekali tidak berubah .
Ketidakharmonisan rumah tangga Tono dan Tini makin diperburuk dengan hadirnya orang ketiga , yaitu Yah (Rohayah alias Siti Hayati alias Nyonya Eni). Dulu Yah adalah tetangga dan teman sekolah Tono. Diam-diam ia mencintai Tono dan mendambakannya menjadi suaminya (hlm. 37). Namun, kemudian ia menjadi korban kawin paksa. Ia melarikan diri hingga terjerumus dalam lembah kehinaan menjadi wanita panggilan (hlm. 50). Tetapi, waktu juga mempertemukan Yah dengan Tono, sebagai pasien dan dokter. Ia meperkenalkan diri sebagai Nyonya Eni. Ia lalu memasang jaring perangkap dan ternyata membuahkan hasil. Tono terperangkap dalam pelukan Yah. Yah pun melimpahkan kasih sayangnya yang telah lama ia impikan. Bagi Tono, curahan kasih sayang Yah itu tak ia dapatkan dari istrinya (hlm. 33).
Dengan kehadiran Yah, Tono seolah-olah menemukan kembali kehangatan cinta yang selama ini ia dambakan untuk mengisi hatinya yang selama ini kosong. Yah menjadi curahan perasaan dan keluh kesah Tono. Tono mulai merasakan, sebuah cinta mulai bersemi di hatinya. Akhirnya, tempat tinggal Yah menjadi rumah kedua Tono.
Keluarga (hal yang paling pribadi dan privat) telah bergerak ke luar batas-batas keluarga. Keluarga (sebagai ruang yang paling memberikan rasa nyaman) telah menjadi petualangan hidup tanpa kepastian. Sudah tidak ada lagi ada waktu untuk keluarga (saat yang paling memberi makna) .
Lambat laun, hubungan gelap Tono dan Yah diketahui juga oleh Tini. Lalu, tanpa sepengetahuan suaminya, ia mendatangi perempuan yang telah merebut suaminya itu. Tini penasaran, macam apakah sosok perempuan itu? Apa yang ia duga sebelumnya ternyata lain pada kenyataannya. Menghadapi tingkah dan sikap Yah yang begitu santun dan tertib, Tini yang dikenal sebagai penunduk anak-anak gadis garang itu, luluh di hadapan Yah. Perasaan marah dan cemburu dari rumah, luluh sudah, dan berbalik mengagumi perempuan itu. Ia menyadari kelebihan Yah. Ia juga menyadari kekurangannya selama ini, telah menyia-nyiakan Tono, suaminya. Dengan ikhlas Tini menyatakan kerelaannya menerima kenyataan bahwa Yah memang lebih pantas menjadi pendamping Tono.
Ketika kenyataan makin membelenggu pikiran dan jiwa, timbulah kejujuran. Tini akhirnya mengungkapkan secara jujur tentang perasaannya selama ini kepada Tono bahwa sebenarnya dari dulu ia tidak dapat menaruh cintanya kepada Tono, ia hanya bisa menjadi teman saja . Berikut ini pengakuan Tini.

“Memang…..bukan sudah kukatakan dahulu, ah laki-laki mudah lupa, tiada ingat kukatakan dahulu, aku dapat cuma menjadi teman saja, aku tiada dapat menaruh cinta padamu; sekarang, sekarang kita sudah kawin, memang laki-laki loba, kesukaannya saja yang diingatnya, engkau mengharapkan cintaku, engkau hendak kupuji, engkau hendak dimanjakan sebagai suami yang tersayang. Kalau engkau mengenal aku dahulu, benar-benar kenal, bukan kenal-kenal saja, engkau pun tahu, mestilah tahu, ….didalam hatiku dingin, seperti es.”
(hlm. 61).

Pengakuan itu seperti ingin menegaskan bahwa sebenarnya, penyebab utama ketidakharmonisan hubungan mereka selama ini terletak pada tidak adanya rasa saling mencintai di antara pasangan itu . Tono memperistri Tini karena kecantikan, kecerdasan, dan keceriaan wanita itu yang dianggap pantas menjadi pendamping seorang dokter. Artinya kemampuan dan kepantasan sosial seseorang dipandang lebih penting dalam menentukan pilihan hidup berumah tangga. Bahkan, Tono tidak mempedulikan keadaan Tini yang tidak perawan lagi ketika menikah. Di lain pihak, Tini bersedia menjadi istri Tono karena ia ingin melupakan masa lalunya dengan Hartono yang dianggap aib, dapat terhapus. Akan tetapi, aib itu selalu membayangi kehidupannya (hlm. 133) hingga menimbulkan perasaan rendah diri dalam diri Tini dan ia hanya bisa menutupinya dengan sikap yang pura-pura.
Setelah mengetahui siapa Yah dan menyadari kenyataan yang ia hadapi dalam hubungan suami-istri, dengan penuh keberanian seorang wanita, Tini membicarakannya dengan suaminya. Betapa terkejut Tono melihat sikap istrinya yang demikian. Tono berusaha untuk menahan istrinya agar tetap bersamanya. Namun, Tini bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah. Sikapnya tak berubah. Hatinya sudah tetap.

“Tidak Tono, jangan bicarakan perkara yang sudah-sudah. Aku tidak hendak mengulangi cerita. Mari kita memandang kehadapan.” Tini berhenti sejurus, kemudian katanya: “Tono, tidakkah baik kalau ….., kalau aku pergi saja.”
Tono belum paham benar akan maksud kata Tini itu. Tanyanya: “Maksudmu, kita,…..kita……”
“Benar Tono, itulah maksudku. Pikiranku sudah tetap.”
“Tetapi Tini…………”
Tini tersenyum, sambil menggeleng-geleng kepalanya: “Dalam hatiku sudah putus, itulah jalan yang sebaik-baiknya. Biasanya yang menanggung ialah pihak perempuan. Sudah tetap putusanku. Aku maklum risiconya, kau suka memikulnya. Engkau laki-laki, tidak mengapa.”
“Tetapi Tini……………”
…………………………………………………….
“Mengapa tidak dapat lagi?”
“Tini tersenyum: “Tono, Tono, coba dengarkan lagu suaramu, engkau bimbang, Tono! Dulu juga sudah kukatakan, dia tidak dapat kulupakan.”
“Bukan dia sudah mati?”
“Tini tersenyum pula menerbitkan pertanyaan dalam hati Tono: Apakah yang tersembunyi dibelakang senyuman itu? Kata Tini: “Itu jawabmu. Ini juga jawabku: Memang dia sudah mati….. dalam hatiku…….tapi masih sebagai duri saja. Kalau kita terus juga begini, jiwa kita menjadi racun, karena itu racun saja yang dapat kita bawa kedalam masyarakat,”…………..
(hlm. 137).

Perpisahan suami-istri itu rupanya tak terelakkan lagi. Bahtera keluarga pun karam pelan-pelan namun pasti bersama dengan kebisuannya. Sungguhpun berat bagi Tono untuk bercerai dari istrinya, ia sendiri tak dapat memaksakan kehendaknya. Ia terpaksa merelakan kepergian istrinya walaupun ia masih tetap berharap akan kembalinya hubungan baik. Kapan pun ia tetap menerima kembali Tini.
Selepas kepergian istrinya, Tono bermaksud mengunjungi Yah di rumahnya. Namun, betapa terkejutnya Tono, perempuan yang selalu menjadi curahan hatinya itu, kini telah pergi juga. Ia pergi ke Kaledonia Baru meninggalkan kenangan pilu bagi Tono.
Yah telah pergi ke dunia baru. Tini juga pergi ke Surabaya mengabdikan diri menjadi pengurus panti yatim piatu di kota itu.
Sungguhpun kini Tono sendiri, ia tidak hanyut dalam kesedihan yang berlarut-larut. Ia menekuni bidangnya, mengabdikan diri dalam pekerjaan di laboratorium akan membantu manusia yang sakit (hlm. 148).
Demikianlah bahtera itu karam, penumpangnya masing-masing berusaha menyelamatkan diri sendiri-sendiri untuk episode selanjutnya karena mungkin mereka tahu bahwa pengalaman itu tidak lebih sebagai kegagalan sejarah yang merupakan titik balik bagi suatu peradaban .

∆∆∆
Pada saat perubahan masyarakat berlangsung dengan ritme yang begitu cepat dan bersamaan pula keluarga telah kehilangan roh dan kekuatannya, maka keluarga cenderung kehilangan fungsi di dalam pendefinisian sosial karena keluarga tidak lagi memiliki otoritas yang cukup untuk melakukan tugas-tugas intinya. Keluarga mengalami kematian karena keluarga secara fisik tak terdefiniskan. Anggota-anggotanya tercabik satu persatu ke luar lingkungannya dan mengalami berbagai persoalannya sendiri dengan cara-cara pemecahannya sendiri. Sebagai sebuah sistem tidak tampak adanya peran-peran yang dimainkan sesuai dengan status.
Apakah keluarga memang telah mengalami kematian? Keluarga itu memang sudah karam, tetapi kekaraman itu bukanlah titik akhir peradaban, melainkan sebuah kegagalan sejarah dalam memelihara institusi. Maka kalau bahtera itu karam, individu-individu dalam bahtera tetap dapat diselamatkan dan barangkali di situlah makna kehadiran novel Belenggu untuk saat ini? Bila diandaikan, sastra mesti berpihak dan berpusat pada manusia konkret dan bukannya menjadikan manusia sebagai sarana untuk mempertahankan sebuah institusi ataupun idealisme tertentu. Di sinilah Armjin Pane lain dari STA atau yang lain yang sepaham dalam perjuangan kebudayaan. Kata Jassin, Pane hanya menuturkan apa yang ia lihat dan saksikan. Soal yang lain mungkin ia merasa bukan bagiannya. Tapi, siapa? Tono, Tini, Yah, Hartono, generasi kemudian atau siapa? Siapa pun semoga!
Blitar, Sabtu Malam 2007

DAFTAR BACAAN

Alisjahbana, S. Takdir. 1977. Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusasteraan. Jakarta: Pustaka Jaya.

BASIS, Mei-Juni 2003.

Cassirer, Ernst. 1990. Manusia dan Kebudayaan:Sebuah Esei tentang Manusia, terj. Alois A. Nugroho. Jakarta: PT Gramedia.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Lomba Mengulas Karya Sastra 2003. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Bagian Proyek Peningkatan Perpustakaan Sekolah Pelajaran Sastra.

Hadimadja, Aoh K. 1972. Aliran-aliran Klasik, Romantik dan Realisma dalam Kesusasteraan dan Dasar-dasar Perkembangannya. Jakarta: Pustaka Jaya.

Jassin, HB. 1985. Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I, Ed. yang diperbarui. Jakarta: PT Gramedia.

Kompas, 27 Mei 2007.

Mahayana, Maman S., Oyon Sofyan, Achmad Dian. 1992. Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo.

Nova, 16-22 April 2007.

Pane, Armjin. 2006. Belenggu (Cetakan keduapuluh), Jakarta: Dian Rakyat.

Sumartana, Th. Dkk..1997. Di Tengah Hentakan Gelombang, Agama dan Keluarga dalam Tantangan Masa Depan. Penerbit Dian/Interfidei.

Teeuw, A. 1959. Pokok dan Tokoh dalam Kesusasteraan Indonesia Baru, cetakan kelima. Jakarta: PT Pembangunan.

Teeuw, A. 1980. Sastra Baru Indonesia (Jilid I). Ende-Flores: Nusa Indah.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar