Rabu, 02 Juni 2010

PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL

“…kita hanya sedikit sekali berimajinasi, sebab kita kekurangan alat-alat konvensional untuk lebih mempercayai hidup. Inilah, kawan inti terdalam dari kesunyian kita.”
Gabriel Garcia Marquez, Peraih Nobel 1982.

A. PENGANTAR
Banyak metode dan pendekatan yang telah hadir dalam pembelajaran di Indonesia. Para guru/pendidik telah banyak mengalami masa-masa yang heboh dengan munculnya banyak sekali metode dan pendekatan belajar –seperti Quantum Learning, Accelerated Learning, Active Learning, Cooperative Learning, Brain-Based Learning, PAIKEM, dan sebagainya, sampai munculnya pendekatan yang paling mutakhir, yakni Contextual Teaching and Learning (CTL).
Meskipun demikian, situasi pengajaran-pembelajaran masih belum menunjukkan keberhasilan kualitas pembelajaran yang signifikan. Berbagai sinyalemen, dugaan, dan fakta menyatakan bahwa mutu pendidikan dan pembelajaran di Indonesia rendah, bahkan sangat rendah. Hasil survai Political and Economic Rick Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong menunjukkan bahwa di antara 12 negara yang disurvei, sistem dan mutu pendidikan Indonesia menempati urutan 12 di bawah Vietnam (Tim BBE, 2001).
Salah satu indikasi dapat dilihat dari nilai rata-rata UAN selama sepuluh tahun terakhir juga menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa-siswa Indonesia tergolong rendah. Kondisi objektif di lapangan memang menunjukkan tanda-tanda masih kurang atau rendahnya profesional, antara lain: (1) Masih banyak guru bahasa Indonesia yang bertugas di SD/MI maupun di SMP/MTs dan SMA/MA yang tidak berlatar pendidikan sesuai dengan ketentuan dan bidang studi yang dibinanya; (2) Masih banyak guru yang memiliki kompetensi keilmuan dan profesionalitas rendah dan memprihatinkan; (3) Masih banyak guru yang kurang terpacu dan termotivasi untuk memberdayakan diri, mengembangkan profesionalitas diri dan memuthakirkan pengetahuan mereka secara terus menerus- menerus dan berkelanjutan meskipun cukup banyak guru Indonesia yang sangat rajin mengikuti program pendidikan. (4) Masih banyak guru yang kurang terpacu, terdorong dan tergerak secara pribadi untuk mengembangkan profesi mereka sebagai guru. Para guru umumnya masih kurang mampu menulis karya ilmiah bidang pembelajaran, menemukan teknologi sederhana dan tepat guna bidang, membuat alat peraga pembelajaran, dan atau menciptakan karya seni. (5) Hanya sedikit guru Indonesia yang secara sungguh-sungguh, penuh kesadaran diri dan kontinu menjalin kesejawatan dan mengikuti pertemuan–pertemuan untuk mengembangkan profesi (http://id.shvoong.com/social-sciences/1686915-meningkatkan-kualitas-guru-bahasa indone-sia/).
Kelima hal di atas setidak-tidaknya merupakan bukti pendukung bahwa mutu profesionalitas guru di Indonesia masih rendah –pembelajaran berjalan tidak maksimal dan kurang memberi makna kepada siswa. Atau pembelajaran berjalan menarik tetapi tidak efektif untuk mencapai standar yang tinggi. Persoalannya, bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran yang menarik dan bermakna?
Berdasarkan permasalahan di atas, pembelajaran Bahasa Indonesia akan dicoba didekati dengan pendekatan kontekstual. Dengan pendekatan ini diharapkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia dapat ditingkatkan dan siswa dapat menemukan makna dari materi yang dipelajari.

B. MENGAPA CTL?
CTL adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajar akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut (Elaine B. Johnson, Ph.D., Contextual Teaching and Learning, Bandung: Penerbit MLC, 2008).
Sujarwati (2008), dalam tesisnya “Implementasi Pendekatan Contextual Teaching and Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Bansari Kabupaten Temanggung), menunjukkan hasil penelitiannya sebagai berikut: (1) implementasi pendekatan contextual teaching and learning pembelajaran Bahasa Indonesia dapat berjalan dengan baik mengacu tujuh pilar landasan utama kontekstual, kegiatan pembelajaran diadministrasikan dengan baik sehingga memudahkan untuk melakukan pengecekan data jika terjadi ketidaksesuaian antara pelaksanaan dengan program yang telah disusun. (2) hasil belajar Bahasa Indonesia melalui implementasi pendekatan contextual teaching and learning (CTL) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sudah berhasil mencapai target kriteria kelulusan dalam UAN, (3) masalah yang ditemui oleh guru dalam implementasi pendekatan contextual teaching and learning (CTL) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia secara garis besar adalah pemahaman guru tentang CTL, terbatasnya sarana penunjang KBM, (4) cara mengatasi yaitu guru berusaha menyesuaikan pola mengajar, pemenuhan sarana sesuai kemampuan (Program Studi Teknologi Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2008)
Semesntara itu, Engkus Kusnadi dalam penelitian tindakan kelas yang berujudul “Meningkatkan Keterampilan Menulis Melalui Pendekatan CTL dalam Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas IX C SMP Negeri 3 Soreang, Bandung, menunjukkan bahwa: 1) Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat digunakan sebagai saran peningkatan kompetensi siswa dalam keterampilan menulis, yang meliputi aspek pengetahuan, aspek sikap, dan aspek keterampilan. 2) Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat efektif jika didukung oleh kemampuan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) di kelas, keterlibata aktivitas secara proporsional di dalam proses pembelajaran, daya dukung iklim kelas yang kondusif dan sarana prasarana pembelajaran yang memadai (di antaranya media pembelajaran yang menarik minat belajar dan penataan ruangan kelas untuk belajar kelompok).
Keberhasilan penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat dilihat dari adanya : 1) Respon positif siswa dalam penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL); 2) Partisipasi aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL); Peningkatan kompetensi siswa dalam aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan kebahasaan terutama menulis.
Penelitian ini berhasil melakukan perbaikan dalam strategi pembelajaran menuju ke arah ‘studemt centered’, dan metode pembelajaran lebih bervariasi melalui Cooperative Learning, pemecahan masalah, analisis gambar/artikel. Oleh karena itu, maka perlu diteruskan kolaborasi antara guru dengan guru yang satu mata pelajarn atau dengan dosen LPTK dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas untuk memperbaiki mutu pembelajaran di sekolah. Dan penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) perlu diterapkan oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas lain, bahkan pada mata-mata pelajaran lain.
Tak bisa dipungkiri, pembelajaran di sekolah (apa pun bidangnya) dengan pendekatan dapat membuahkan hasil yang memuaskan. Bukan saja meningkatkan minat siswa dalam belajar sesuatu bidang mata pelajaran, melainkan juga memberikan makna yang dalam tentang kehidupan ketika materi yang dipelajari itu ada dalam kehidupan ini.
Pembelajaran di Seminari Garum, sebenarnya sejak awal mempunyai potensi dan telah dikembangkan dengan pendekatan kontekstual. Misalnya, untuk melatih keterampilan berbicara, sekolah (dan asrama) menyediakan ruang tiap minggu sekali, yaitu Sidang Akademi dengan tema-tema yang kontekstual bergayutan dengan kehidupan sehari-hari dan dikemas dalam berbagai kegiatan, seperti seminar, debat, orasi, parade karya, promosi, brainstorming, diskusi panel, dan monolog. Dalam bidang sosiologi masyarakat, sekolah memberikan ruang gerak hidup bermasyarakat, yaitu asrama sebagai bentuk miniatur masyarakat. Sistem masyarakat dapat langsung diterapkan atau dipelajari dalam kehidupan berasrama yang bersistem juga. Bahkan, ilmu-ilmu eksak dapat langsung dihayati dan dikembangkan dalam kehidupan asrama, seperti dalam komunitas kompos, budaya tanam toga, dan penelitian-penelitian dalam lingkungan sekolah dari ilmu-ilmu eksak. Ide proyek truestory atau berbagai penerbitan lain pun sebenarnya berkembang dari pendekatan kontekstual. Maka, bukanlah hal baru kalau pendekatan kontekstual dicoba untuk dilihat dan dikembangkan lagi kualitasnya.

C. PENERAPAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMAK SEMINARI GARUM

Konsep CTL
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Pemikiran Tentang Belajar
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.

Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.

Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.

Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.

Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.

Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.

Penerapan CTL dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Seminari
Menerapkan CTL dalam pembelajaran berarti: (1) mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru, (2) melakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik, (3) mengembangkan sifat keingintahuan siswa dengan cara bertanya, (4) menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok), (5) menghadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran, (6) melakukan refleksi pada akhir pertemuan, (7) melakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
Berdasarkan prinsip di atas, pembelajaran Bahasa Indonesia di Seminari dapat dirancang sebagai berikut.
Pertama, untuk mengembangkan pemikiran siswa tentang makna belajar, pembelajaran bahasa Indonesia akan memberikan banyak latihan penerapan langsung membaca, menulis, mendengarkan, berbicara. Pembelajaran ini akan didukung dengan mekanisme pemberian tugas yang bersifat konstruktif dan efektif (baca: terintegrasi dengan mata pelajaran lain).
Kedua, proses pembelajaran akan berangkat dari konteks atau pengalaman siswa, ditemukan dengan teori dan materi, dirumuskan bentuk pengetahuan, dan disempurnakan dalam karya: portofolio, produk, ataupun proyek. Hasil karya siswa merupakan hasil kerja siswa sendiri, ditemukan dan dibuat sendiri.
Ketiga, pengalaman yang dimiliki oleh siswa digali dan diperdalam dengan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing ke arah pengetahuan tingkat tinggi. Pertanyaan-pertanyaan disiapkan dengan sebaik-baiknya, bukan asal bertanya.
Keempat, komunitas belajar yang sudah perlu diberdayakan semaksimal dan seefektif mungkin demi kebanggaan bersama.

D. PENUTUP
Banyak bukti yang menunjukkan adanya keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia dengan Pendekatan Kontekstual. Keberhasilan itu didukung oleh beberapa faktor antara lain: kemampuan guru, konteks siswa (pribadi, sosial, dan budaya), sarana/prasarana dan lingkungan belajar yang mendukung. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMAK Seminari pun diharapkan demikian, mengingat Seminari adalah sekolah calon imam yang para siswanya mempunyai konteks yang unik dan khas. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar